Rabu, 08 September 2010

tak tersentuh

Tak tersentuh sama sekali

Hanya duka-duka diatas pengharapan yang ada

Dikala duka maupun suka

Hanya sebuah duka yang kembali hadir

Dalam kesendirian

Dalam sebuah duka yang kemba;li menyatukan

Hati yang ingin berganti

Hati yang kini tersakiti

Namun semua akan berjalan dengan sebuah keindahan

Tak ada yang terlewatkan

Dengan sedikit instuisi

Dan saat semua telah berlalu

Saat perubahan yang berlalu dengan indah

Dengan sebuah kebahagian yang ada

Kini saat ku sendiri dalam kesendirian dan inginku berganti hati

Namun hatiku tak akan pernah tergantikan oleh siapapun dan kapanpun

Hatiku hanya untuknya

Hanya untuk dia yang dapat membuat aku begini 

Hingga ujung waktuku

Tetes-tetss air mata kembali terjatuh

Diantara semua yang ku rasakan

Satu persatu telah pergi

Cinta yang membuatku buta

Namun saat semua telah beranjak dari hidupku

Hanya sepi yang ku rasakan

Disini

Saat semua telah menjadi satu dengan apa yang ku inginkan

Semau telah menghilang

Entah kemana

Yang ku rasakan adalah sakit

Tetes-tetes air mata yang kembali mengalir memberikan sebuah pertanda

Walau aku tak dapat selalu berada disisimu

Namun aku yakin

Semua akan abadi disini

Disini selamanya

Dalam ruang dan waktu yang berbeda

Kisah cinta ini akan  selalu ada

Kamu yang telah memberikanku sebuah kekuatan

Kekuatan yang tak mudah ihancurkan oleh dirinya sendiri

Namun lukisan dirimu akan selalu ada dalam angku

Yang selalu ku pandang dalam setiap waktuku

Telah ku tinggalkan semua hanya untukmu

Sekalipu kamu itu pelacur aku tetap menyayangimu

Entah sampai kapan ku dapat bertahan

Namun aku tak pernah memaksamu untuk mencintaiku

Selama kehidupan ini berputar aku selalu akan ada disini

Hingga ujung usiaku

Menunggumu 

tentang alam

Daun-daun mengering

Gugur berjatuhan dengan sendirinya

Terbawa angin yang berhembus

Dengan sedikit kekuatan

Tetes-tetes air membuatku terjerembab

Dan setelah tetes air berhenti

Kini tiupan angin mengeringkanku dan

Membawaku terbang melayang

Jauh . . .

Dari tempatku terpuruk

Disini

Diawang-awang

Melayang-layang

Melupakan sejenak kesedihan yang ku alami

Namun semua tak akan bertahan lama

Lambat laun kan berubah

Saat-saat yang telah dinantikan

Saat naik dan saat turun

Semua peranh mengalami yang seperti itu

Naik dan turun

Dalam segala bidang

Apapun itu

Jangan pernah menyesal dengan semua yaung terjadi

Semua akan menjadi sebuah pmbelajaran

Untuk kita semua

Untuk sebuah dimensi waktu yang akan selalu berjalan

Aku hanyalah manusia biasa yang terkadang lupa diri

Dan aku . . .

menunggu dalam kesenirian

Menunggu

Dikala aku sendiri

Menatap lembayung jingga sore ini

Dengan menantikan seseorang yang ada dalam bayangan kalbu ku

Kata-kata yang tak selalu bermakna

Dan sebuah keinginan yang tak selalu terwujud

Yang selalu menyiksa batin

Dalam kesendirianku

Namun ditempat seramai ini aku masih merasakan kesendirian

Seperti tak ada yang peduli dengan diriku

Hanya aku yanh merasakan semua ini

Suka selalu ku bagikan kepada semua

Dan duka selalu ku sembunyikan

Agar tak ada yang tahu akan arti hidupku

Selalu kebahagian yang ku tunjukkan kepada semua

Walau hati ini sedang luluh lantah sekalipun

Damai yang ku bagikan kepada yang ku temui

Selalu berucap penuh dengan rasa syukur

Dan terasingkan diriku bukan berarti aku asing

Serta tak ada yang berteman

Hanya aku selalu menutup diriku dikala semua mengucapkan kata-kata

Kata yang selalu membuatku tak percaya akan hadirnya

Cinta yang tak pernah bersahabat denganku

Namun ku selalu berusaha untuk percaya akan hadirnya

Walau . . .

Semua hanya akan berakhir dengan sakit yang ku derita 

kasih dan perhatian

Apa yang sebenarnya terjadi aku juga tak paham

Yang ku lakukan hanya menjalani semua yang ada dalam ruang lingkup ini

Tak pernah menolak dan pernah memberontak

Hanya sesekali berdiam dengan semua yang ada

Tak ada yang peduli memang dengan kehidupankan

Karena dari awal aku hanya dimanjakan oleh tumpuk materi

Yang menurut kedua orang tuaku

Materi dapat membeli segala apa yang ku inginkan

Memang semua bisa dibeli

Namun aku tak membutuhkan semua itu

Yang ku butuhkan hanyalah kasih sayang dan sebuah perhatian

Berhari-hari aku tak makan

Namun mereka hanya diam

Seolah tak merasakan apa yang diinginkan olehku

Ku ingin sebuah perhatian saja

Tak lebih

Aku memang anak ketiga

Dan aku telah beranjak dewasa

Namun aku tak pernah merasakan apa yang dirasakan orang lain

Semua memang dapat ku beli dengan sejumlah materi yang ku miliki

Namun dalam kenyataan

Mateti tak dapat membeli sebuah perhatian dan kasih sayang

Inilah yang ku rasakan selama ini

Dan adikku yang paling kecilpun begitu

Ia merasa diperhatikan oleh orang lain

Rekan kerja ibuku yang menyewa dirumah bagian depan

Menjaga kios

Yang seolah-olah telah menjadi orang tua baru bagiku dan adikku

Setiap hari selalu disapanya dan bergelayut manja padanya

Akupun terkadang curhat kepadanya

Walau aku tak tahu

Maafkan aku dan keluargaku yang telah mengganggap kamu seperti pembantu

Walau kamu mungkin berkata senang dengan yang kamu lakukan

Namun dalam hati ini miris . . .

Uang yang diberikan kepadamu tak lebih dari seratus ribu

Padahal uang jajanku lebih dari ini

Begitu juga dengan kakak-kakakku

Namun kamu tetap bahagia dengan apa yang kamu dapatkan

Aku ingin seperti kamu

Namun . . .

Didikan dan kurangnya perhatian kedua orang tuaku

Membuatku begini

Berlari mencari yang ingin ku dapatkan

Namun kedua orang tuaku tak menggubrisnya

Aku hanya diam dengan semua

Hingga ku terjatuh sakitpun mereka tak tanya

Sudah makan atau belum pun tak pernah mereka tanyakan

Tak seperti kamu mungkin yang selalu ditanya oleh kedua orang tuamu

Namun apakah ini karena pikiranku saja atau hanya halusinasiku saja

Namun ini nyata

Ini terjadi padaku

Materi yang melimpah tak selamanya membuatku bahagia

Namun kasih sayang dan perhatian yang ku inginkan

Jika disuruh memilih

Aku ingin menjadi anak orang yang tak mampu namun semua keinginanku

Dapat mereka wujudkan

Yaitu kasih sayang dan perhatian

 

Jogjakarta 25 Juli 2010 at 01.39 pm, Otista Juice

dalam kesendirian malam

Malam sepi tiada teman yang menemani

Lari kecil sang kucing-kucing kecil nan lucu

Dibawah terpaaan sang purnama

Kerlip-kerlip bintang laksana intan permai

Eongan kucing nan manja menghampiriku

Kesendirianku telah terusik

Duduk nyaman disampingku

Yang dipenuhi tanda tanya

Akan sebuah asa dan rasa

Yang tak tahu akan sampai kapan terjawab

Purnama yang masih menjadi perhatianku

Dan kerlip bintang yang menggodaku untuk berpaling

Namun ku nikmati semua secara b ersama

Tanpa ku ragu

Kembali ku diusik oleh kucing-kucing kecil itu

Lucu dan mengeong manja

Setia menemaniku dari tempatku duduk disini

Dihamparan permadani rumput nan sejuk

Jangkrik dan hewan malam lainnya telah berseru

Seakan menemani jiwa ku yang sepi

Tanpa sebuah pamrih

Membuatku tersentuh

Ku lihat sesuatu terjadi dihadapanku

Tarian sang lentera malam

Kunang-kunang yang selalu ku tunggu

Malam ini ku tak menempati tahtaku

Didahan pohon itu

Ku hanya bersandar dibawah

Semberani memainkan kedua tangaku

Mencoba mengusir gigitan sang penghisap darah

Namun pandangan mataku tak teralihkan

Masih menatap tarian indah sang kunang-kunang

Diamku dalam tanya

Eoangan kucing yang sedari tadi menemanili telah berganti

Manjanya telah menghilang

Tinggalku sendiri menatap purnama

Menikmati keharmonisasian orkestra

Riak danau yang sedari tadi tenang

Kini bergelombang

Sang ikan melompat bahagia

Menambah satu instrumen baru yang jarang ku dengarkan

Berpadu mengiringi tarian indah sang kunang-kunang

Yang kini ada disuatu panggung termegah

Yang pernah ku nikmati

Dalam kesendirianku disini

 

sore yang ceria

sore yang ceria

Menyambut malam yang indah

Purnama yang mulai menampakkan diri

Nyala api yang mulai berkobar

Disebuah halaman

Bersebelahan dengan danau kecil

Ayunan masa lalau yang dipakai oleh aku dan kakak-kakakku dulu

Sekarang . . .

Ayunan itu digunakan oleh anak-anak kami

Sore telah berganti

Terang menjadi gelap

Semua telag berkumpul disini

Ayah, ibu, kakak-kakakku

Dan pasangan kakak-kakakku

Anak-anak mulai berkumpul

Memberikan keceriaan

Senda tawa terlontar

Aku terdiam disini menikmati semua

Sebuah rasa kebersamaan

Jagung-jagung yang mulai dibakar

Memberikan aroma harum yang menggoda

Anak-anak yang bermain

Berlari berhamburan ke ibu masing-masing

Kecuali satu . . .

Bermanja-manja

Sesaat kemudian menuju kepadaku

Untuk meminta sebuah dongeng

Langit begitu benderasng dengan pancaran purnama

Serta kerlip bintang nan menggoda

Sunyi . . .

Saat menikmati jagung-jagung aneka rasa

Nyanyian kolaborasi malam ini begitu syahdu

Tarian sang kunang-kunang kembali hadir

Dalam remang dan suasana bahagia

Canda dan tawa lepas anak-anak menandakan kebahagian

Tetesan air mata tak tertahankan

Mengalir saat ku mengakhiri kisah dongengku

Namun jam pada handphone yang ku pegang

Telah menunjukkan pukul sembilan malam

Saatnya mengakhiri semua kebersamaan ini

Hanya tiga jam yang ku lalui bersama yang lain

Namun rasa ini berbeda

Tak sperti mereka yang bergelimang materi

Dan dimanjakan oleh materi

Namun . . .

Mereka tak pernah dimanjakan oleh kebersamaan

Dan oleh kepuasan batin

Yaitu perhatian

Untukku

Lebih berharga kebersamaan dan saling memperhatikan

Dibandingkan mempunyai setumpuk materi tapi tak pernah diperhatikan

Kisah ini nyata

Kisah ini banyak terjadi

Dan banyak mereka yang mengalaminya

Terkadang ada yang berpikir

Lebih baik hidup miskin namun penuh kasih dan perhatian

Dibandingkan hidup kaya namun tak penuh kasih dan perhatian

 

 

Jogja, 23 Juli 2010 at 09.06pm