Senin, 17 Maret 2014

Apa Itu Home Care?

  1. A.      Pengertian Home Care
Home care adalah pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif yang diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal mereka yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan atau memulihkan kesehatan atau memaksimalkan tingkat kemandirian dan meminimalkan akibat dari penyakit ( Depkes, 2002 ).  Sedangkan menurut Neis dan Mc Ewen (2001) dalam Avicenna ( 2008 ) menyatakan home health care adalah sistem dimana pelayanan kesehatan dan pelayanan sosial diberikan di rumah kepada orang-orang yang cacat atau orang-orang yang harus tinggal di rumah karena kondisi kesehatannya. Tidak berbeda dengan kedua definisi di atas, Warola ( 1980 )  mendefinisikan home care sebagai  pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan pasien individu dan keluarga, direncanakan, dikoordinasikan dan disediakan oleh pemberi pelayanan yang diorganisir untuk memberi pelayanan di rumah melalui staf atau pengaturan berdasarkan perjanjian kerja (kontrak).
Menurut American of Nurses Association (ANA) tahun 1992 pelayanan kesehatan di rumah ( home care ) adalah perpaduan perawatan kesehatan masyarakat dan ketrampilan teknis yang terpilih dari perawat spesialis yang terdiri dari perawat komunitas, perawat gerontologi, perawat psikiatri, perawat maternitas dan perawat medikal bedah. Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan perawatan kesehatan di rumah adalah :
  • Suatu bentuk pelayanan kesehatan yang komprehensif bertujuan memandirikan klien dan keluarganya.
  • Pelayanan kesehatan diberikan di tempat tinggal klien dengan melibatkan klien dan keluarganya sebagai subyek yang ikut berpartisipasi merencanakan kegiatan pelayanan.

  1. B.       Model/ Teori Keperawatan yang Mendukung Home Care
Terdapat beberapa model/ teori keperawatan yang mendukung Home care diantaranya:
v  Transkultural nursing (Leininger)
Model/ teori keperawatan transkultural nursing memfokuskan pada  penanganan harus memperhatikan budaya pasien. Adapun konsep model/ teori keperawatan ini berorientasi pada culture, cultural care diversity, cultural care universality, nursing, worldview, dimensi struktur budaya dan social, konteks lingkungan, ethnohistory, generic ( folk or lay) care system, sistem perawatan profesional, kesehatan, care/caring, culture care preservation, accomodation dan repatterning. Teori Leininger dan paradigma keperawatan Leininger mengkritisi empat konsep keperawatan yaitu manusia, kesehatan, lingkungan dan keperawatan. Definisi konseptual menurut asumsi dan teori dari Madeleine Leininger yaitu:
  • Manusia seseorang yang diberi perawatan dan harus diperhatikan kebutuhannya.
  • Kesehatan yaitu konsep yang penting dalam perawatan transkultural.
  • Lingkungan tidak didefinisikan secara khusus, namun jika dilihat bahwa telah terwakili dalam kebudayaan, maka lingkungan adalah inti utama dari teori M. Leininger.
  • Keperawatan menyajikan 3 tindakan yang sebangun dengan kebudayaan klien yaitu cultural care preservation, accomodation dan repatterning.
v  Teori Self Care ( Dorothea Orem ) 
Pandangan teori Orem dalam tatanan pelayanan keperawatan ditujukan kepada kebutuhan individu dalam melakukan tindakan keperawatan mandiri serta mengatur dalam kebutuhannya. Orem mengklasifikasikan dalam 3 kebutuhan, yaitu:
  • Universal self care requisites (kebutuhan perawatan diri universal): kebutuhan yang umumnya dibutuhkan oleh manusia selama siklus kehidupannya seperti kebutuhan fisiologis dan psikososial termasuk kebutuhan udara, air, makanan, eliminasi, aktivitas, istirahat, sosial, dan pencegahan bahaya. Hal tersebut dibutuhkan manusia untuk perkembangan dan pertumbuhan, penyesuaian terhadap lingkungan, dan lainnya yang berguna bagi kelangsungan hidupnya.
  • Development self care requisites (kebutuhan perawatan diri pengembangan): kebutuhan yang berhubungan dengan pertumbuhan manusia dan proses perkembangannya, kondisi, peristiwa yang terjadi selama variasi tahap dalam siklus kehidupan (misal, bayi prematur dan kehamilan) dan kejadian yang dapat berpengaruh buruk terhadap perkembangan. Hal ini berguna untuk meningkatkan proses perkembangan sepanjang siklus hidup.
  • Health deviation self care requisites (kebutuhan perawatan diri penyimpangan kesehatan): kebutuhan yang berhubungan dengan genetik atau keturunan, kerusakan struktur manusia, kerusakan atau penyimpanngan cara, struktur norma, penyimpangan fungsi atau peran dengan pengaruhnya, diagnosa medis dan penatalaksanaan terukur beserta pengaruhnya, dan integritas yang dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk melakukan self care.
Tiga jenis kebutuhan tersebut didasarkan oleh beberapa asumsi, yaitu:
ü  Human being (Kehidupan manusia): oleh alam, memiliki kebutuhan umum akan pemenuhan beberapa zat (udara, air, dan makanan) dan untuk mengelola kondisi kehidupan yang menyokong proses hidup, pembentukan dan pemeliharaan integritas structural, serta pemeliharaan dan peningkatan integritas fungsional.
ü  Perkembangan manusia: dari kehidupan di dalam rahim hingga pematangan ke dewasaan memerlukan pembentukan dan pemeliharaan kondisi yang meningkatkan proses pertumbuhan dan perkembangan di setiap periode dalam daur hidup.
ü  Kerusakan genetik maupun perkembangan dan penyimpangan dari struktur normal dan integritas fungsional serta kesehatan menimbulkan beberapa persyaratan/permintaan untuk pencegahan, tindakan pengaturan untuk mengontrol perluasan dan mengurangi dampaknya.
Asuhan keperawatan mandiri dilakukan dengan memperhatikan tingkat ketergantuangan atau kebutuhan klien dan kemampuan klien. Oleh karena itu ada 3 tingkatan dalam asuhan keperawatan mandiri, yaitu:
ü  Perawat memberi keperawatan total ketika pertama kali asuhan keperawatan dilakukan karena tingkat ketergantungan klien yang tinggi (sistem pengganti keseluruhan).
ü  Perawat dan pasien saling berkolaborasi dalam tindakan keperawatan (sistem pengganti sebagian).
ü  Pasien merawat diri sendiri dengan bimbingan perawat (sistem dukungan/pendidikan).
v  Teori Lingkungan (Florence Nihgtingale)
Teori / model konsep Florence Nightingale memposisikan lingkungan sebagai fokus asuhan keperawatan, dan perawat tidak perlu memahami seluruh proses penyakit, model dan konsep ini dalam upaya memisahkan antara profesi keperawatan dangan kedokteran. Orientasi pemberian asuhan keperawatan / tindakan keperawatan lebih diorientasikan pada pemberian udara, lampu, kenyamanan, kebersihan, ketenangan dan nutrisi yang adequate, dengan dimulai dari pengumpulan data dibandingkan dengan tindakan pengobatan semata, upaya teori tersebut dalam rangka perawat mampu menjalankan praktik keperawatan mandiri tanpa bergantung pada profesi lain. Model dan konsep ini memberikan inspisi dalam perkembangan praktik keperawatan, sehingga akhirnya dikembangkan secara luas, paradigma perawat dalam tindakan keperawatan hanya memberikan kebersihan lingkungan kurang benar, akan tetapi lingkungan dapat mempengaruhi proses perawatan pada pasien, sehingga perlu diperhatikan.
v  Manusia Sebagai Unit (Rogers)
Berdasarkan teori Rogers sakit timbul akibat ketidakseimbangan energi penanganan dengan metode terapi modalitas/ komplementer. Rogers mengungkapkan bahwa aktivitas yang di dasari prinsip – prinsip kreativitas, seni dan imaginasi. Aktivitas keperawatan dinyatakan Rogers merupakan aktivitas yang berakar pada dasar ilmu pengetahuan abstrak, pemikiran intelektual, dan hati nurani. Rogers menekankan bahwa keperawatan adalah disiplin ilmu yang dalam aktifitasnya mengedepankan aplikasi keterampilan, dan teknologi. Aktivitas keperawatan meliputi pengkajian, intervensi, dan pelayanan rehabilitatif senantiasa berdasar pada konsep pemahaman manusia / individu seutuhnya.
Dasar teori Rogers adalah ilmu tentang asal usul manusia dan alam semesta seperti antropologi, sosiologi, agama, filosofi, perkembangan sejarah dan mitologi. Teori Rogers berfokus pada proses kehidupan manusia secara utuh. Ilmu keperawatan adalah ilmu yang mempelajari manusia, alam dan perkembangan manusia secara langsung. Berdasarkan pada kerangka konsep yang dikembangkan oleh Roger ada 5 asumsi mengenai manusia, yaitu :
  • Manusia merupakan makhluk yang memiliki kepribadian unik, antara satu dan lainnya berbeda di beberapa bagian. Secara signifikan mempunyai sifat-sifat yang khusus jika semuanya jika dilihat secara bagian perbagian ilmu pengetahuan dari suatu subsistem tidak efektif bila seseorang memperhatikan sifat-sifat dari sistem kehidupan manusia. Manusia akan terlihat saat bagiannya tidak dijumpai.
  • Berasumsi bahwa individu dan lingkungan saling tukar-menukar energi dan material satu sama lain. Beberapa individu mendefenisikan lingkungan sebagai faktor eksternal pada seorang individu dan merupakan satu kesatuan yang utuh dari semua hal.
  •  Bahwa proses kehidupan manusia merupakan hal yang tetap dan saling bergantung dalam satu kesatuan ruang waktu secara terus menerus. Akibatnya seorang individu tidak akan pernah kembali atau menjadi seperti yang diharapkan semula.
  • Perilaku pada individu merupakan suatu bentuk kesatuan yang inovatif.
  • Manusia bercirikan mempunyai kemampuan untuk abstrak, membayangkan, bertutur bahasa dan berfikir, sensasi dan emosi. Dari seluruh bentuk kehidupan di dunia hanya manusia yang mampu berfikir dan menerima dan mempertimbangkan luasnya dunia.
Martha E. Roger mengemukakan empat konsep besar. Beliau menghadirkan lima asumsi tentang manusia. Tiap orang dikatakan sebagai suatu yang individu utuh. Manusia dan lingkungan selalu saling bertukar energi. Proses yang terjadi dalam kehidupan seseorang tidak dapat diubah dan berhubungan satu sama lain pada dimensi ruang dan waktu. Hal tersebut merupakan pola kehidupan. Pada akhirnya seseorang mampu berbicara, berfikir, merasakan, emosi, membayangkan dan memisahkan. Manusia mempunyai empat dimensi, medan energi negentropik dapat diketahui dari kebiasaan dan ditunjukkan dengan ciri-ciri dan tingkah laku yang berbeda satu sama lain dan tidak dapat diduga dengan ilmu pengetahuan yaitu lingkungan, keperawatan dan kesehatan.
v  Human Caring (Watson)
Perawat harus memperhatikan sisi humanistik sebagai moral ideal ke pasien dan keluarga. Keperawatan sebagai sains tentang human care didasarkam pada asumsi bahwa human science and human care merupakan domain utama dan menyatukan tujuan keperawatan. Sebagai human science keperawatan berupaya mengintegrasikan pengetahuan empiris dengan estetika, humanities, dan kiat/art (Watson, 1985). Sebagai pengetahuan tentang human care fokusnya untuk mengembangkan pengetahuan yang menjadi inti keperawatan, seperti yang dinyatakan oleh Watson (1985) “human care is the heart of nursing”. Pandangan tentang keperawatan sebagai science tentang human care adalah komprehensif.
Nilai-nilai yang mendasari konsep caring menurut Jean Watson meliputi konsep tentang manusia, kesehatan, lingkungan dan keperawatan. Adapun keempat konsep tersebut adalah sebagai berikut:
  • Konsep tentang manusia
Manusia merupakan suatu fungsi yang utuh dari diri yang terintegrasi (ingin dirawat, dihormati, mendapatkan asuhan, dipahami dan dibantu). Manusia pada dasarnya ingin merasa dimiliki oleh lingkungan sekitarnya merasa dimiliki dan merasa menjadi bagian dari kelompok atau masyarakat, dan merasa dicintai dan merasa mencintai.
  • Konsep tentang kesehatan
Kesehatan merupakan kuutuhan dan keharmonisan pikiran fungsi fisik dan fungsi sosial. Menekankan pada fungsi pemeliharaan dan adaptasi untuk meningkatkan fungsi dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Kesehatan merupakan keadaan terbebas dari keadaan penyakit, dan Jean Watson menekankan pada usaha-usaha yang dilakukan untuk mencapai hal tersebut.
  • Konsep tentang lingkungan
Berdasarkan teori Jean Watson, caring dan nursing merupakan konstanta dalam setiap keadaan di masyarakat. Perilaku caring tidak diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya, akan tetapi hal tersebut diwariskan dengan pengaruh budaya sebagai strategi untuk melakukan mekanisme koping terhadap lingkungan tertentu.
  • Konsep tentang keperawatan
Keperawatan berfokus pada promosi kesehatan, pencegahan penyakit dan caring ditujukan untuk klien baik dalam keadaan sakit maupun sehat.
v  Model Konsep Adaptasi Roy
Model konsep adaptasi pertama kali dikemukakan oleh Suster Callista Roy (1969). Konsep ini dikembangkan dari konsep individu dan proses adaptasi seperti diuraikan di bawah ini. Asumsi dasar model adaptasi Roy adalah :
  • Manusia adalah keseluruhan dari biopsikologi dan sosial yang terus-menerus berinteraksi dengan lingkungan.
  • Manusia menggunakan mekanisme pertahanan untuk mengatasi perubahan-perubahan biopsikososial.
  • Setiap orang memahami bagaimana individu mempunyai batas kemampuan untuk beradaptasi. Pada dasarnya manusia memberikan respon terhadap semua rangsangan baik positif maupun negatif.
  • Kemampuan adaptasi manusia berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, jika seseorang dapat menyesuaikan diri dengan perubahan maka ia mempunyai kemampuan untuk menghadapi rangsangan baik positif maupun negatif.
  • Sehat dan sakit merupakan adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari dari kehidupan manusia.
Empat elemen penting yang termasuk dalam Model Adaptasi Keperawatan adalah 1) manusia; 2) lingkungan; 3) sehat; 4) keperawatan. Unsur keperawatan terdiri dari dua bagian yaitu tujuan keperawatan dan aktivitas keperawatan. Juga termasuk dalam elemen penting pada konsep adaptasi.
  1.  Manusia
Roy mengemukakan bahwa manusia sebagai sebuah sistem adaptif. Sebagai sistem adaptif, manusia dapat digambarkan secara holistik sebagai satu kesatuan yang mempunyai input, kontrol, out put dan proses umpan balik. Proses kontrol adalah mekanisme koping yang dimanifestasikan dengan cara- cara adaptasi. Lebih spesifik manusia didefenisikan sebagai sebuah sistem adaptif dengan aktivitas kognator dan regulator untuk mempertahankan adaptasi dalam empat cara-cara adaptasi yaitu : fungsi fisiologis, konsep diri, fungsi peran dan interdependensi. Dalam model adaptasi keperawatan, manusia dijelaskan sebagai suatu sistem yang hidup, terbuka dan adaptif yang dapat mengalami kekuatan dan zat dengan perubahan lingkungan. Sebagai sistem adaptif manusia dapat digambarkan dalam istilah karakteristik sistem, jadi manusia dilihat sebagai satu-kesatuan yang saling berhubungan antara unit fungsional secara keseluruhan atau beberapa unit fungsional untuk beberapa tujuan. Input pada manusia sebagai suatu sistem adaptasi adalah dengan menerima masukan dari lingkungan luar dan lingkungan dalam diri individu itu sendiri. Input atau stimulus termasuk variabel standar yang berlawanan yang umpan baliknya dapat dibandingkan. Variabel standar ini adalah stimulus internal yang mempunyai tingkat adaptasi dan mewakili dari rentang stimulus manusia yang dapat ditoleransi dengan usaha-usaha yang biasa dilakukan. Proses kontrol manusia sebagai suatu sistem adaptasi adalah mekanisme koping. Dua mekanisme koping yang telah diidentifikasi yaitu : subsistem regulator dan subsistem kognator. Regulator dan kognator digambarkan sebagai aksi dalam hubungannya terhadap empat efektor atau cara-cara adaptasi yaitu : fungsi fisiologis, konsep diri, fungsi peran dan interdependen.
2.     Lingkungan
Lingkungan digambarkan sebagai dunia di dalam dan di luar manusia. Lingkungan merupakan masukan (input) bagi manusia sebagai sistem yang adaptif sama halnya lingkungan sebagai stimulus internal dan eksternal. Lebih lanjut stimulus itu dikelompokkan menjadi tiga jenis stimulus yaitu : fokal, kontekstual dan residual.
  • Stimulus fokal yaitu rangsangan yang berhubungan langsung dengan perubahan lingkungan misalnya polusi udara dapat menyebabkan infeksi paru, kehilangan suhu pada bayi yang baru lahir.
  • Stimulus kontekstual yaitu : stimulus yang menunjang terjadinya sakit (faktor presipitasi) keadaan tidak sehat. Keadaan ini tidak terlihat langsung pada saat ini. Misalnya : daya tahan tubuh yang menurun, lingkungan yang tidak sehat.
  • Stimulus residual yaitu : sikap, keyakinan dan pemahaman individu yang dapat mempengaruhi terjadinya keadaan tidak sehat atau disebut dengan faktor presdiposisi sehingga terjadi kondisi fokal. Misalnya : persepsi klien tentang penyakit, gaya hidup dan fungsi peran.
  • Lebih luas lagi lingkungan didefinisikan sebagai segala kondisi, keadaan di sekitar yang mempengaruhi keadaan, perkembangan dan perilaku manusia sebagai individu atau kelompok.
3.    Sehat
Menurut Roy, kesehatan didefinisikan sebagai keadaan dan proses menjadi manusia secara utuh dan terintegrasi secara keseluruhan. Integritas atau keutuhan manusia menyatakan secara tidak langsung bahwa kesehatan atau kondisi tidak terganggu mengacu kelengkapan atau kesatuan dan kemungkinan tertinggi dari pemenuhan potensi manusia. Jadi integrasi adalah sehat, sebaliknya kondisi yang tidak ada integrasi adalah kurang sehat. Definisi kesehatan ini lebih dari tidak adanya sakit tapi termasuk penekanan pada kondisi sehat sejahtera. Dalam model adaptasi keperawatan, konsep sehat dihubungkan dengan konsep adaptasi. Adaptasi yang bebas energi dari koping yang inefektif dan mengizinkan manusia berespons terhadap stimulus yang lain. Adaptasi adalah komponen pusat dalam model adaptasi keperawatan. Di dalamnya menggambarkan manusia sebagai sistem adaptif. Proses adaptasi termasuk semua interaksi manusia dan lingkungan terdiri dari dua proses. Bagian pertama dari proses ini dimulai dengan perubahan dalam lingkungan internal dan eksternal yang membutuhkan sebuah respons. Perubahan- perubahan itu adalah stresor atau stimulus fokal dan ditengahi oleh faktor- faktor kontekstual dan residual. Bagian kedua adalah mekanisme koping yang merangsang untuk menghasilkan respons adaptif atau inefektif. Produk adaptasi adalah hasil dari proses adaptasi dan digambarkan dalam istilah kondisi yang meningkatkan tujuan-tujuan manusia yang meliputi : kelangsungan hidup, pertumbuhan, reproduksi dan penguasaan yang disebut integritas. Kondisi akhir ini adalah kondisi keseimbangan dinamik equilibrium yang meliputi peningkatan dan penurunan respons. Setiap kondisi adaptasi baru dipengaruhi oleh tingkat adaptasi, sehingga dinamik equilibrium manusia berada pada tingkat yang lebih tinggi. Jarak yang besar dari stimulus dapat disepakati dengan suksesnya manusia sebagai sistem adaptif. Jadi peningkatan adaptasi mengarah pada tingkat-tingkat yang lebih tinggi pada keadaan sejahtera atau sehat.
  1. C.      Landasan Hukum Home Care
Unit home care yang merupakan bagian dari institusi pelayanan pemerintah dan swasta, tidak perlu izin khusus, hanya melapor dan melakukan pelaporan kasus yang ditangani Fungsi hukum dalam praktik perawat antara lain adalah sebagai berikut :
  • Memberikan kerangka untuk menentukan tindakan keperawatan mana yang sesuai dengan hukum .
  • Membedakan tanggung jawab perawat dengan profesi lain.
  • Membantu menentukan batas-batas kewenangan tindakan keperawatan mandiri.
  • Membantu mempertahankan standard praktik keperawatan dengan meletakkan posisi perawat memiliki akuntabilitas dibawah hukum.
Landasan Hukum Home Care diantaranyaadalah sebagai berikut:
  • UU Kes.No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan.
  • PP No. 25 tahun 2000 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah.
  • UU No. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah.
  • UU No. 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran.
  • Kepmenkes No. 1239 tahun 2001 tentang registrasi dan praktik perawat.
  • Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang kebijakan dasar puskesmas.
  • Kepmenkes No. 279 tahun 2006 tentang pedoman penyelenggaraan Perkesmas.
  • SK Menpan No. 94/KEP/M. PAN/11/2001 tentang jabatan fungsonal perawat.
  • PP No. 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan.
  • Permenkes No. 920 tahun 1986 tentang pelayan medik swasta.
  • Permenkes RI No. HK.02.02/MENKES/148/2010 tentang Izin dan Penyelengaraan Praktik Perawat.
  1. D.      Lingkup Pelayanan Home Care
Lingkup praktik keperawatan mandiri meliputi asuhan keperawatan perinatal, asuhan keperawatan neonantal, asuhan keperawatan anak, asuhan keperawatan dewasa, dan asuhan keperawatan maternitas, asuhan keperawatan jiwa dilaksanakan sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggung jawabnya.
Keperawatan yang dapat dilakukan dengan :
  • Melakukan keperawatan langsung (direct care) yang meliputi pengkajian bio- psiko- sosio- spiritual dengan pemeriksaan fisik secara langsung, melakukan observasi, dan wawancara langsung, menentukan masalah keperawatan, membuat perencanaan, dan melaksanakan tindakan keperawatan yang memerlukan ketrampilan tertentu untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang menyimpang, baik tindakan-tindakan keperawatan atau tindakan-tindakan pelimpahan wewenang (terapi medis), memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan dan melakukan evaluasi.
  • Mendokumentasikan setiap tindakan pelayanan yang di berikan kepada klien, dokumentasi ini diperlukan sebagai pertanggung jawaban dan tanggung gugat untuk perkara hukum dan sebagai bukti untuk jasa pelayanan kepertawatan yang diberikan.
  • Melakukan koordinasi dengan tim yang lain kalau praktik dilakukan secara berkelompok.
  • Sebagai pembela/pendukung(advokat) klien dalam memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan klien dirumah dan bila diperlukan untuk tindak lanjut kerumah sakit dan memastikan terapi yang klien dapatkan sesuai dengan standart dan pembiayaan terhadap klien sesuai dengan pelayanan /asuhan yang diterima oleh klien.
  • Menentukan frekwensi dan lamanya keperawatan kesehatan di rumah dilakukan, mencangkup berapa sering dan berapa lama kunjungan harus di lakukan.
Secara umum lingkup pelayanan dalam perawatan kesehatan di rumah (home care ) dapat dikelompokkan sebagai berikut :
  • Pelayanan medik dan asuhan keperawatan
  • Pelayanan sosial dan upaya menciptakan lingkungan terapeutik
  • Pelayanan rehabilitasi medik dan keterapian fisik
  • Pelayanan informasi dan rujukan
  • Pendidikan, pelatihan dan penyuluhan kesehatan
  • Higiene dan sanitasi perorangan serta lingkungan
  • Pelayanan perbantuan untuk kegiatan sosial
  1. E.       Skill Dasar yang Harus Dikuasai Perawat
Berdasarkan SK Dirjen Dirjen YAN MED NO HK. 00.06.5.1.311 terdapat 23 tindakan keperawatan mandiri yang bisa dilakukan oleh perawat home care antara lain :
  • Vital sign
  • Memasang nasogastric tube
  • Memasang selang susu besar
  • Memasang cateter
  • Penggantian tube pernafasan
  • Merawat luka dekubitus
  • Suction
  • Memasang peralatan O2
  • Penyuntikan (IV,IM, IC,SC)
  • Pemasangan infus maupun obat
  • Pengambilan preparat
  • Pemberian huknah/laksatif
  • Kebersihan diri
  • Latihan dalam rangka rehabilitasi medis
  • Tranpostasi klien untuk pelaksanaan pemeriksaan diagnostik
  • Pendidikan kesehatan
  • Konseling kasus terminal
  • Konsultasi/telepon
  • Fasilitasi ke dokter rujukan
  • Menyiapkan menu makanan
  • Membersihkan tempat tidur pasien
  • Fasilitasi kegiatan sosial pasien
  • Fasilitasi perbaikan sarana klien.
Sedangkan kompetensi dasar yang harus dimiliki dalam melaksanakan tindakan home care antara lain:
  1. Memahami dasar-dasar anatomi, fisiologi, patologi tubuh secara umum.
  • Menjelaskan anatomi, fisiologi, patologi sebagai sistem tubuh secara umum .
  • Menjelaskan konsep dasar homeostasis, dan patogenesis.
  1. Melaksanakan pemberian obat kepada klien/pasien
  • Menjelaskan cara-cara pemberian obat kepada pasien.
  • Melakukan pemberian obat kepada pasien sesuai resep dokter.
  1. Memahami jenis  pemeriksaan laboratorium dasar yang diperlukan oleh klien/pasien
  • Menjelaskan jenis pemeriksaan laboratorium dasar yang diperlukan oleh
    klien/pasien.
  • Menjelaskan persiapan klien/pasien yang akan diperiksa di laboratorium.
  • Mengantarkan klien/pasien untuk periksa di laboratorium.
  1. Menunjukan kemampuan melakukan komunikasi terapeutik
  • Menjelaskan definisi komunikasi terapeutik .
  • Menjelaskan fungsi, dan manfaat komunikasi terapeutik.
  • Melaksanakan setiap tindakan keperawatan menggunakan komunikasi terapeutik.
  1. Menunjukan kemampuan  mengasuh bayi, balita, anak, dan lansia sesuai tingkat perkembangan
  • Membangun hubungan antar manusia
  • Mengoptimalkan komunikasi terapeutik
  • Mengidentifikasi kebutuhan dasar manusia
  • Merencanakan kebutuhan dasar manusia
  1. Menunjukan kemampuan melayani klien/pasien berpenyakit ringan
  • Membangun hubungan antar manusia
  • Mengoptimalkan komunikasi terapeutik
  • Mengidentifikasi kebutuhan dasar klien/pasien
  • Merencanakan kebutuhan dasar klien/pasien
  • Melaksanakan kebutuhan dasar klien/ pasien
  • Mendokumentasikan hasil pelaksanaan kebutuhan pasien/klien yang penyakit
    ringan.
  1. Menerapkan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup (K3LH)
  • Mendeskripsikan keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
  • Melaksanakan prosedur K3
  • Menerapkan konsep lingkungan hidup
  • Menerapkan ketentuan pertolongan pertama pada kecelakaan
  1. Memahami kontinum sehat- sakit
  • Menjelaskan keseimbangan tubuh manusia normal
  • Menjelaskan definisi sehat-sakit
  • Menjelaskan model-model sehat dan sakit
  • Menjelaskan nilai-nilai yang mempengaruhi kesehatan
  • Menjelaskan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit
  • Menjelaskan faktor-faktor resiko dalam kehidupan manusia
  • Menjelaskan dampak sakit pada klien/pasien dan keluarga.
  1. Memahami dasar-dasar penyakit sederhana yang umum di masyarakat
  • Menjelaskan penyakit–penyakit sistem integumen sederhana yang umum di masyarakat.
  • Menjelaskan penyakit–penyakit sistem gastro intestinal sederhana yang umum di masyarakat.
  • Menjelaskan penyakit-penyakit sistem genito urinaria sederhana yang umum di masyarakat .
  • Menjelaskan penyakit–penyakit sistem respiratori sederhana yang umum di masyarakat.
  • Menjelaskan penyakit–penyakit sistem kardio vaskuler sederhana yang umum di masyarakat.
  • Menjelaskan penyakit–penyakit sistem persarafan sederhana yang umum di masyarakat.
  • Menjelaskan penyakit–penyakit sistem reproduksi sederhana yang umum di masyarakat.
  1. Memahami peningkatan kesehatan dan pelayanan kesehatan utama
  • Menjelaskan tindakan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit
  • Menjelaskan tindakan pelayanan kesehatan utama
  • Menjelaskan peran asisten perawat dalam pemberian perawatan utama.
  1. Memahami pemberian obat
  • Menjelaskan nomenklatur dan bentuk obat oral
  • Menjelaskan faktor yang mempengaruhi kerja obat
  • Menjelaskan kemampuan memberikan obat oral.
  1. Memahami kemampuan interpersonal dan massa
  • Menjelaskan berbagai tingkatan komunikasi
  • Menjelaskan proses komunikasi
  • Menjelaskan bentuk-bentuk komunikasi
  • Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi
  • Mendiskusikan komunikasi terapeutik
  • Menjelaskan bantuan dalam berkomunikasi.
  1. Prinsip-prinsip perkembangan manusia
  • Menjelaskan teori pertumbuhan dan perkembangan manusia
  • Menjelaskan tahap pertumbuhan dan perkembangan manusia
  • Menjelaskan tentang konsepsi
  • Menjelaskan proses kelahiran.
  1. Memahami tahap-tahap perkemangan manusia
  • Menjelaskan perkembangan masa bayi
  • Menjelaskan perkembangan masa balita
  • Menjelaskan perkembangan anak masa usia sekolah
  • Menjelaskan perkembangan masa remaja
  •  Menjelaskan perkembangan masa
  1. Dewasa muda
  • Menjelaskan perkembangan masa dewasa
  • Menjelaskan perkembangan masa lansia.
  1. Memahami sikap pelayanan perawat sesuai dengan tahapan perkembangan
  • Menjelaskan sikap perawat terhadap klien/pasien sesuai dengan tahap
    perkembangan
  •  Menjelaskan pelayanan perawatan kesehatan komunitas dan panti.
  1. Memahami tentang stres
  • Menjelaskan konsep stres
  • Menjelaskan adaptasi terhadap stres
  • Menjelaskan respon terhadap stres
  • Menjelaskan proses keperawatan dan adaptasi terhadap stres.
  1. Memahami kebutuhan dasar manusia
  • Menjelaskan kebutuhan fisiologis manusia
  • Menjelaskan kebutuhan keselamatan dan rasa aman
  • Menjelaskan kebutuhan cinta dan rasa memiliki
  • Menjelaskan kebutuhan penghargaan  dan harga diri
  • Menjelaskan kebutuhan aktualisasi diri.
  1. Memahami tentang kesehatan reproduksi
  • Menjelaskan konsep kesehatan reproduksi
  • Menjelaskan anatomi dan fisiologi alat reproduksi
  • Menjelaskan masalah yang berhubungan dengan kesehatan
    reproduksi.
  1. Memahami perilaku empatik 12.1Menjelaskan sikap empatik terhadap kehilangn, kematian, duka cita saat melakukan tindakan keperawatan
  • Menjelaskan bantuan yang diberikan sesuai dengan agama, dan kebutuhan
    spiritual klien tersebut.
  1. Melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital
  • Menjelaskan pedoman untuk mengukur tanda vital
  •  Menjelaskan tentang pengukuran suhu tubuh
  • Melaksanakan pengukuran nafas
  • Melaksanakan pengukuran nadi.
  1.  Melakukan mobilisasi pasif terhadap klien/pasien
  • Menjelaskan tentang mobilisasi dan pengaturan gerak
  • Menjelaskan gangguan mobilisasi
  • Menjelaskan latihan mobilisasi
  • Menunjukan kemampuan melakukan mobilisasi pasif dan aktif
  • Menjelaskan gangguan mobilisasi.
  1. Melakukan pemberian nutrisi 15.1Menjelaskan nutrisi seimbang
  • Menunjukan kemampuan memberikan makan peroral pada pasien/klien.
  1. Melaksanakan dokumentasi tindakan keperawatan
  • Menjelaskan komunikasi multidisiplin dalam tim
  • Membuat dokumentasi sesuai dengan pedoman.
  1. Melaksanakan tugas sesuai dengan etika keperawatan, dan kaidah hukum
  • Menjelaskan pentingnya etika dan hukum keperawatan dalam
    melaksanakan tugas
  • Melakukan perilaku kinerja asisten perawat sesuai dengan etika dan hokum keperawatan.
  1. F.       Issue Dasar dan Legal Praktik Keperawatan
Secara legal perawat dapat melakukan aktivitas keperawatan mandiri berdasarkan pendidikan dan pengalaman yang di miliki. Perawat dapat mengevaluasi klien untuk mendapatkan pelayanan perawatan di rumah tanpa program medis tetapi perawatan tersebut harus diberikan di bawah petunjuk rencana tindakan tertulis yang ditandatangani oleh dokter. Perawat yang memberi pelayanan di rumah membuat rencana perawatan dan kemudian bekerja sama dengan dokter untuk menentukan rencana tindakan medis.
Issue legal yang paling kontroversial dalam praktik perawatan di rumah antara lain mencakup hal-hal sebagai berikut:
  • Resiko yang berhubungan dengan pelaksanaan prosedur dengan teknik yang tinggi, seperti pemberian pengobatan dan transfusi darah melalui IV di rumah.
  • Aspek legal dari pendidikan yang diberikan pada klien seperti pertanggungjawaban terhadap kesalahan yang dilakukan oleh anggota keluarga karena kesalahan informasi dari perawat.
  • Pelaksanaan peraturan medicare atau peraturan pemerintah lainnya tentang perawatan di rumah.
Alasan biaya yang sangat terpisah dan terbatas untuk perawatan di rumah, maka perawat yang memberi perawatan di rumah harus menentukan apakah pelayanan akan diberikan jika ada resiko penggantian biaya yang tidak adekuat. Seringkali, tunjangan dari medicare telah habis masa berlakunya sedangkan klien membutuhkan perawatan yang terus-menerus tetapi tidak ingin atau tidak mampu membayar biayanya. Beberapa perawat akan menghadapi dilema etis bila mereka harus memilih antara menaati peraturan atau memenuhi kebutuhan untuk klien lansia, miskin dan klien yang menderita penyakit kronik. Perawat harus mengetahui kebijakan tentang perawatan di rumah untuk melengkapi dokumentasi klinis yang akan memberikan penggantian biaya yang optimal untuk klien.
Pasal krusial dalam Keputusan Menteri Kesehatan ( Kepmenkes )  1239/2001 tentang praktik keperawatan anatara lain:
  • Melakukan asuhan keperawatan meliputi Pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan, melaksanakan tindakan dan evaluasi.
  • Pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan atas permintaan tertulis dokter
  • Dalam melaksanakan kewenangan perawat berkewajiban :
-          Menghormati hak pasien
-          Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani
-          Menyimpan rahasia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
-          Memberikan informasi
-          Meminta persetujuan tindakan yang dilakukan
-          Melakukan catatan perawatan dengan baik
  • Dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa seseorang , perawat berwenang melakukan pelayanan kesehatan di luar kewenangan yang ditujukan untuk penyelamatan jiwa.
  • Perawat yang menjalankan praktik perorangan harus mencantumkan SIPP di ruang praktiknya
  • Perawat yang menjalankan praktik perorangan tidak diperbolehkan memasang papan praktik  (sedang dalam proses amandemen)
  • Perawat yang memiliki SIPP dapat melakukan asuhan dalam bentuk kunjungan rumah
  • Persyaratan praktik perorangan sekurang-kurangnya memenuhi :
-                Tempat praktik memenuhi syarat
-                Memiliki perlengkapan peralatan dan administrasi termasuk formulir /buku kunjungan, catatan tindakan dan formulir rujukan.
v  Larangan
  • Perawat dilarang menjalankan praktik selain yang tercantum dalam izin dan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan standar profesi
  • Bagi perawat yang memberikan pertolongan dalam keadaan darurat atau menjalankan tugas didaerah terpencil yang tidak ada tenaga kesehatan lain, dikecualikan dari larangan ini
  • Kepala dinas atau organisasi profesi dapat memberikan peringatan lisan atau tertulis kepada perawat yang melakukan pelanggaran
  • Peringatan tertulis diberikan paling banyak 3 kali, apabila tidak diindahkan SIK dan SIPP dapat dicabut.
  • Sebelum SIK atau SIPP di cabut kepala dinas kesehatan terlebih dahulu mendengar pertimbangan dari MDTK atau MP2EM.
v  Sanksi
  • Pelanggaran ringan , pencabutan izin selama-lamanya 3 bulan.
  • Pelanggaran sedang , pencabutan izin selama-lamanya 6 bulan .
  • Pelanggaran berat, pencabutan izin selama-lamanya 1 tahun.
  • Penetapan pelanggaran didasarkan pada motif pelanggaran serta situasi setempat.

  1. G.      Mekanisme Pelayanan Home Care
Pasien/ klien yang memperoleh pelayanan keperawatan di rumah dapat merupakan rujukan dari klinik rawat jalan, unit rawat inap rumah sakit, maupun puskesmas, namun pasien/ klien dapat langsung menghubungi agensi pelayanan keperawatan di rumah atau praktek keperawatan per orangan untuk memperoleh pelayanan. Mekanisme yang harus di lakukan adalah sebagai berikut:
  • Pasien / klien pasca rawat inap atau rawat jalan harus diperiksa terlebih dahulu oleh dokter untuk menentukan apakah secara medis layak untuk di rawat di rumah atau tidak.
  • Selanjutnya apabila dokter telah menetapkan bahwa klien layak dirawat di rumah, maka di lakukan pengkajian oleh koordinator kasus yang merupakan staf dari pengelola atau agensi perawatan kesehatan dirumah, kemudian bersama-sama klien dan keluarga, akan menentukan masalahnya, dan membuat perencanaan, membuat keputusan, membuat kesepakatan mengenai pelayanan apa yang akan diterima oleh klien, kesepakatan juga mencakup jenis pelayanan, jenis peralatan, dan jenis sistem pembayaran, serta jangka waktu pelayanan.
  • Selanjutnya klien akan menerima pelayanan dari pelaksana pelayanan keperawatan dirumah baik dari pelaksana pelayanan yang dikontrak atau pelaksana yang direkrut oleh pengelola perawatan dirumah. Pelayanan dikoordinir dan dikendalikan oleh koordinator kasus, setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh tenaga pelaksana pelayanan harus diketahui oleh koordinator kasus.
  • Secara periodic koordinator kasus akan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelayanan yang diberikan apakah sudah sesuai dengan kesepakatan.
Unsur Pelayanan Home Care
Unsur pelayanan home care ada 4, yaitu:
  • Pengelola  adalah agensi atau unit yang bertanggung jawab terhadap pelayanan kesehatan di rumah yang bisa merupakan bagian yan dari Puskesmas, Rumah Sakit, klinik atau mandiri.
  • Pelaksana terdiri dari tenaga keperawatan dan tenaga profesional lain dan non profesional yang terdiri koordinator kasus dan pelaksana pelayanan.
  • Klien adalah penerima pelayanan kesehatan dan keluarg yg bertanggung jawab atau care giver yang disuruh memenuhi kebutuhan sehari-hari pasien.
  • Koordinator kasus adalah seorang perawat dengan kriteria tertentu baik yang masih aktif maupun yang sudah memasuki masa pensiun. Mereka bisa berasal dari Puskesmas, Rumah Sakit, Klinik, Petugas Kesehatan Swasta dan lain-lain. Seorang Koordinator Kasus dapat mengkoordinir 10-20 orang pelaksana perawatan yang bekerja baik secara suka rela maupun yang menerima imbalan dari Lembaga Swadaya Masyarakat atau masyarakat.


  1. 1.      Pengelola
v  Persyaratan Pengelola
  • Merupakan bagian institusi pelayanan kesehatan pemerintah atau swasta atau unit mandiri yg berbadan hukum.
  • Mendapat ijin mengelola dari Pemda dengan rekomendasi dari Dinkes.
  • Memiliki kantor dengan alamat jelas.
  • Memiliki sarana komunikasi.
  • Memiliki peralatan pelayanan kesehatan.
  • Mampu menyediakan transportasi yang dibutuhkan klien.
  • Memiliki tenaga (pimpinan, administrasi dan perawat minimal D3 yg purna waktu)
  • Mampu menyediakan tenaga profesional atau non yg bersertifikat pelatihan home care.
  • Punya kerjasama dengan Rumah Sakit rujukan.
v  Hak Pengelola
  • Mengelola home care sesuai standar .
  • Menerima hak imbalan jasa .
  • Punya akses dg pemerintah yg mengendalikan home care.
  • Mendapat dukungan dari pelaksana yan dan klien atas pengelolaan yg menjadi tanggung jawabnya.
  • Menetapkan tenaga pelaksana pelayanan home care.
  • Menetapkan mitra kerja yang mendukung home care.
v Kewajiban Pengelola
  • Menjamin pelayanan profesional dan bermutu.
    • Mematuhi kontrak .
    • Memberikan perlakuan yang baik kepada pelaksana dan klien.
    • Meningkatkan pengetahuan pelaksana pelayanan.
    • Menyediakan sarana administrasi .
    • Mematuhi peraturan yg berlaku terkait home care .
    • Menerapkan sistem reward dan punishment
    • Melaksanakan pengawasan, pengendalian thd kinerja pelaksana
    • Melaksanakan kewajiban yg harus diberikan kepada pelaksana yan dan klien.
  1. 2.      Koordinator Kasus
v Syarat Koordinator Kasus
  • Minimal berumur 21 tahun.
    • Minimal pendidikan D3 Keperawatan.
    • Koordinator kasus harus punya sertifikat pelatihan home care.
    • Mampu melakukan pengkajian awal dan melakukan analisis terhadap kasus
    • Mampu memimpin bekerjasama dalam tim.
    • Mampu memberikan yan sesuai etika.
    • Mampu melaksanakan bimbingan tehnis, monitoring dan evaluasi.
v Hak Koordinator Kasus
  • Mengetahui hak dan kewajiban secara tertulis.
  • Berhak atas imbalan jasa sesuai perjanjian.
  • Berhak mendapat perlakuan sesuai norma yang ada.
  • Berhak menolak tugas, prosedur atau tindakan medis di luar job diskripsion nya.
  • Memperoleh informasi terkait perubahan pelayanan.
    • Mempunyai akses kepada pemerintah yg mengendalikan home care.
    • Berhak mengemukakan pendapat dalam upaya peningkatan mutu pelayanan.
    • Mendapat perlindungan hukum atas tindakan yang dilakukan, diterima dan dirasakan merugikan .
    • Mendapat dukungan dari pengelola dan klien .
  1. 3.      Pelaksana
v Syarat Pelaksana
  • Usia minimal 21 tahun.
    • Punya ijasah formal.
    • Punya sertifikat pelatihan home care.
    • Mampu memberikan yan sec mandiri dan bertanggung jawab.
    • Mampu bekerja sesuai SOP yang ada .
    • Mampu melaksanakan tindakan sesuai etika.
v Hak Pelaksana
  • Mengetahui hak & kewajiban sec tertulis
  • Berhak atas imbalan jasa sesuai perjanjian
    • Berhak mendapat perlakuan sesuai norm yang ada
    • Berhak menolak tugas, prosedur atau tindakan medis di luar job diskripsion
    • Memperoleh informasi terkait perubahan pelayanan.
    • Mempunyai akses kepada pemerintah yg mengendalikan homecare
    • Berhak mengemukakan pendapat dlm upaya peningkatan mutu yan
    • Mendapat perlindungan hukum atas tindakan yg dilakukan, diterima dan dirasakan merugikan
    • Mendapat dukungan dari pengelola dan klien .
v Kewajiban Pelaksana
  • Mentaati peraturan dan disiplin kerja
    • Memberikan pelayanan yg bermutu sesuai standar yg ditetapkan
    • Merahasiakan segala hal terkait kondisi klien
    • Melaksanakn tugas sesuai rencana yan yang telah disepakati
    • Bekerjasama dan saling mendukung dg tenaga pelaksana lain
    • Mematuhi perjanjian kerja yang sudah dibuat
    • Mengharagai hak hak klien
    • Membuat laporan rutin kepada penanggung jawab pelayanan .
  1. 4.      Pasien/ Klien
v Persyaratan pasien / klien
  • Mempunyai keluarga atau pihak lain yang bertanggungjawab atau menjadi pendamping bagi klien dalam berinteraksi dengan pengelola
  • Bersedia menandatangani persetujuan setelah diberikan informasi (Informed consent).
  • Bersedia melakukan perjanjian kerja dengan pengelola perawatan kesehatan dirumah untuk memenuhi kewajiban, tanggung jawab, dan haknya dalam menerima pelayanan.
v Hak Klien
  • Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban.
  • Mendapat pelayanan profesional.
  • Ikut berpartisipasi dalam rencana dan pelaksanaan pelayanan.
  • Memperoleh perlakuan yang layak.
  • Memperoleh seluruh catatan klinis.
  • Mendapat pelayanan yang layak.
  • Mendapat informasi terkait perubahan yang ada.
  • Mendapat perlindungan hukum atas tindakan yang diterima .
  • Memperoleh akses ke pemerintah yang mengendalikan home care.
  • Menolak tindakan setelah mendapat informasi lengkap .
v Kewajiban Klien
  • Mematuhi perjanjian .
    • Mentaati rencana yang telah dibuat .
    • Membayar jasa pelayanan.
    • Bekerjasama dengan pelaksana .
    • Menghargai hak pelaksana .

Apakah Gempa Bumi Itu?

Apakah Gempabumi itu ?
Gempabumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di dalam bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi. Akumulasi energi penyebab terjadinya gempabumi dihasilkan dari pergerakan lempeng-lempeng tektonik. Energi yang dihasilkan dipancarkan kesegala arah berupa gelombang gempabumi sehingga efeknya dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi.
Parameter Gempabumi
  • Waktu terjadinya gempabumi (Origin Time - OT)
  • Lokasi pusat gempabumi (Episenter)
  • Kedalaman pusat gempabumi (Depth)
  • Kekuatan Gempabumi (Magnitudo)
Karakteristik Gempabumi
  • Berlangsung dalam waktu yang sangat singkat
  • Lokasi kejadian tertentu
  • Akibatnya dapat menimbulkan bencana
  • Berpotensi terulang lagi
  • Belum dapat diprediksi
  • Tidak dapat dicegah, tetapi akibat yang ditimbulkan dapat dikurangi
Mengapa Gempabumi Terjadi ?

Lempeng Tektonik

Menurut teori lempeng tektonik, permukaan bumi terpecah menjadi beberapa lempeng tektonik besar. Lempeng tektonik adalah segmen keras kerak bumi yang mengapung diatas astenosfer yang cair dan panas. Oleh karena itu, maka lempeng tektonik ini bebas untuk bergerak dan saling berinteraksi satu sama lain. Daerah perbatasan lempeng-lempeng tektonik, merupakan tempat-tempat yang memiliki kondisi tektonik yang aktif, yang menyebabkan gempa bumi, gunung berapi dan pembentukan dataran tinggi. Teori lempeng tektonik merupakan kombinasi dari teori sebelumnya yaitu: Teori Pergerakan Benua (Continental Drift) dan Pemekaran Dasar Samudra (Sea Floor Spreading).
Lapisan paling atas bumi, yaitu litosfir, merupakan batuan yang relatif dingin dan bagian paling atas berada pada kondisi padat dan kaku. Di bawah lapisan ini terdapat batuan yang jauh lebih panas yang disebut mantel. Lapisan ini sedemikian panasnya sehingga senantiasa dalam keadaan tidak kaku, sehingga dapat bergerak sesuai dengan proses pendistribusian panas yang kita kenal sebagai aliran konveksi. Lempeng tektonik yang merupakan bagian dari litosfir padat dan terapung di atas mantel ikut bergerak satu sama lainnya. Ada tiga kemungkinan pergerakan satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya, yaitu apabila kedua lempeng saling menjauhi (spreading), saling mendekati(collision) dan saling geser (transform).


Jika dua lempeng bertemu pada suatu sesar, keduanya dapat bergerak saling menjauhi, saling mendekati atau saling bergeser. Umumnya, gerakan ini berlangsung lambat dan tidak dapat dirasakan oleh manusia namun terukur sebesar 0-15cm pertahun. Kadang-kadang, gerakan lempeng ini macet dan saling mengunci, sehingga terjadi pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai pada suatu saat batuan pada lempeng tektonik tersebut tidak lagi kuat menahan gerakan tersebut sehingga terjadi pelepasan mendadak yang kita kenal sebagai gempa bumi.
Jalur Gempabumi Dunia
Indonesia merupakan daerah rawan gempabumi karena dilalui oleh jalur pertemuan 3 lempeng tektonik, yaitu: Lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik.

Lempeng Indo-Australia bergerak relatip ke arah utara dan menyusup kedalam lempeng Eurasia, sementara lempeng Pasifik bergerak relatip ke arah barat.

Jalur pertemuan lempeng berada di laut sehingga apabila terjadi gempabumi besar dengan kedalaman dangkal maka akan berpotensi menimbulkan tsunami sehingga Indonesia juga rawan tsunami.

Belajar dari pengalaman kejadian gempabumi dan tsunami di Aceh, Pangandaran dan daerah lainnya yang telah mengakibatkan korban ratusan ribu jiwa serta kerugian harta benda yang tidak sedikit, maka sangat diperlukan upaya-upaya mitigasi baik ditingkat pemerintah maupun masyarakat untuk mengurangi resiko akibat bencana gempabumi dan tsunami.

Mengingat terdapat selang waktu antara terjadinya gempabumi dengan tsunami maka selang waktu tersebut dapat digunakan untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat sebagai salah satu upaya mitigasi bencana tsunami dengan membangun Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia (Indonesia Tsunami Early Warning System / Ina-TEWS).
Akibat Gempabumi
  • Getaran atau guncangan tanah (ground shaking)
  • Likuifaksi ( liquifaction)
  • Longsoran Tanah
  • Tsunami
  • Bahaya Sekunder (arus pendek,gas bocor yang menyebabkan kebakaran, dll)
Faktor-faktor yang Mengakibatkan Kerusakan Akibat Gempabumi
  • Kekuatan gempabumi
  • Kedalaman gempabumi
  • Jarak hiposentrum gempabumi
  • Lama getaran gempabumi
  • Kondisi tanah setempat
  • Kondisi bangunan
Dampak Gempabumi Terhadap Alam
Dampak Gempabumi Terhadap Struktur Bangunan
Dampak Liquifaksi Terhadap Bangunan
Dampak Sekunder Gempabumi Berupa Kebakaran

Rabu, 12 Maret 2014

Apa Itu Initial Assesment ?

Initial assesment adalah proses evaluasi secara cepat pada penderita gawat darurat yang langsung diikuti dengan tindakkan resusitasi (Suryono dkk, 2008 ). Informasi digunakan untuk membuat keputusan tentang intervensi kritis dan waktu yang dicapai. Ketika melakukan pengkajian, pasien harus aman dan dilakukan secara cepat dan tepat dengan mengkaji tingkat kesadaran (Level Of  Consciousness) dan pengkajian ABC (Airway, Breathing, Circulation), pengkajian ini dilakukan pada pasien memerlukan tindakan  penanganan segera dan pada pasien yang terancam nyawanya.  


Tujuan
  • Menentukan prioritas penilaian pada penderita multi trauma.
  • Menerapkan prinsip primary survei dan secondary survey pada penderita multi trauma.
  • Menerapkan cara dan teknik terapi baik pada fase resusitasi.
  • Mengenal riwayat dan mekanisme cidera dalam membantu diagnosis.
  1. 3.      Komponen
  • Persiapan penderita
  • Triase
  • Survey primer (ABCDE)
  • Resusitasi
  • Pemeriksaan penunjang untuk survey primer
  • Survey sekunder (Head to Toe & anamnesis)
  • Pemeriksaan penunjang untuk survey sekunder
  • Pengawasan dan evaluasi ulang
  • Terapi definitif
  1. 4.      Tahapan Pengelola Penderita
Penanganan penderita berlangsung dalam 2 tahapan yaitu tahap pra rumah sakit ( pre-hospital ) dan tahap di rumah sakit.
1)      Tahap Pra- Rumah Sakit
Pelayanan korban dengan trauma pra rumah sakit biasanya dilakukan oleh keluarga ataupun orang sekitar yang berbaik hati menolong ( good samaritan ). Prinsip utama adalah tidak boleh membuat keadaan lebih parah ( Do no Further Harm ).
Keadaan yang ideal adalah dimana unit gawat darurat yang datang ke penderita sehingga ambulans harus memiliki peralatan yang lengkap. Petugas yang datang adalah petugas khusus yang telah mendapatkan pelatihan kegawatdaruratan. Selain itu, diperlukan koordinasi dengan rumah sakit tujuan terhadap kondiri/ jenis perlukaan sebelum penderita dipindahkan dari tempat kejadian. Hal ini sangat penting mengingat koordinasi yang baik antara petugas lapangan dengan petugas di rumah sakit akan menguntungkan penderita.
Tindakan yang harus dilakukan oleh petugas lapangan/ paramedik adalah:
-          Menjaga airway dan breathing.
-          Mengontrol perdarahan dan syok.
-          Imobilisasi penderita.
-          Pengiriman ke rumah sakit terdekat/ tujuan dengan segera.
2)      Tahap Rumah Sakit
v  Evakuasi Penderita
Penderita yang dibawa ke rumah sakit tanpa penanganan pra rumah sakit sebaiknya evakuasi penderita dari kendaraan ke brankar dilakukan oleh petugas rumah sakit dengan hati- hati dan selalu diperhatikan kontrol servikal ( prinsip : do no further harm ).

v  Triase
Triase adalah cara pemilahan penderita berdasarkan tipe dan tingakat kegawatan kondisinya ( Zimmermann dan Herr dalam Kartikawati, 2011) . Triase juga diartikan sebagai suatu tindakan pengelompokan penderita berdasarkan beratnya cedera yang diprioritaskan ada tidaknya gangguan pada airway ( A ), breathing ( B ), dan circulation ( B) dengan mempertimabangkan sarana, sumber daya manusia dan probalitas hidup pasien.
Dalam triase terdapat dua keaadan yaitu jumlah penderita dan beratnya perlukaan tidak melampaui kemampuan petugas dan yang melampaui kemampuan petugas. Apabila jumlah penderita dan beratnya perlukaan melampaui kemampuan petugas, maka dalam keadaan ini penderita dengan masalah gawat darurat dan multi trauma akan dilayani terlebih dahulu sesuai dengan prinsip ABC. Sedangkan apabila jumlah penderita dan beratnya perlukaan melampaui kemampuan petugas, maka dalam keadaan ini yang akan dilayani terlebih dahulu adalah penderita dengan kemungkinan survial yang terbesar dan membutuhkan waktu, perlengkapan, dan tenaga paling sedikit.
v  Survey Primer ( Primary Survey ) dan Resusitasi
Pada  tahap ini harus dicari keadaan yang mengancam nyawa, tetapi sebelum memegang penderita petugas harus selalu menggunakan alat proteksi diri terlebih dahulu untuk menghindari tertular penyakit seperti hepatitis dan AIDS. Alat proteksi diri sebaiknya:
-          Sarung tangan
-          Kaca mata, tertama apaibila menyemburkan darah.
-          Apron, mellindungi pakaian sendiri.
-          Sepatu
Lakukan primary survey atau mencari keadaan yang mengancam nyawa sebagai berikut:
-          A atau airway maintenance adalah mempertahankan jalan napas, hal ini dapat dikerjakan dengan teknik manual ataupun menggunakan alat bantu (pipa orofaring, pipa endotrakheal, dll). Tindakan ini mungkin akan banyak memanipulasi leher sehingga harus diperhatikan untuk menjaga stabilitas tulang leher.
-          B atau Breathing adalah menjahga pernapasan atau ventilasi dapat berlangsung dengan baik. Setiap penderita trauma berat memerlikan tambahan oksigen yang harus diberikan kepada penderita dengan cara efektif.
-          C atau Circulation adalah mempertahankan sirkulasi bersama dengan tindakan untuk menghentikan perdarahan. Pengenalan dini tanda-tanda syok perdarahan dan pemahaman tentang prinsip-prinsip pemberian cairan sangat penting untuk dilakukan sehingga menghindari pasien dari keterlambatan penanganan.
-          D atau Disability adalah pemeriksaan untuk mendapatkan kemungkinan adanya gangguan neurologis.
-          E atau Exposure atau Environment adalah pemeriksaan pada seluruh tubuh penderita untuk melihat jelas jejas atau tanda-tanda kegawatan yang mungkin tidak terlihat dengan menjaga supaya tidak terjadi hipotermi.
a)      Menjaga Airway dengan Kontrol Servikal
Hal pertama yang harus dinilai adalah kelancaran dari jalan nafas, tetapi harus selalu diwaspadai bahwa kebanyakan usaha dalam memperbaiki jalan nafas dapat menyebabkan gerakan pada leher. Oleh sebab  itu,untuk mencegah fraktur servikal akibat gerakan pada leher harus dilakukan tindakan pengontrolan servikal. Kemungkinan dari fraktur servikal dapat diprediksi apabila terdapat:
-            Trauma kapitis, terutama apabila ada penurunan kesadaran.
-            Adanya luka karena trauma tumpul kranial dari klavikula.
-            Setiap multi trauma ( trauma pada dua regio atau lebih )
-            Biomekanika trauma yang mendukung seperti tabrakan dari belakang.
Setelah dilakukan penilaian awal terhadap servikal langkah selanjutnya adalah tindakan proteksi servikal. Tindakan proteksi servikal antara lain dengan mempertahankan posisi kepala dan memasang kolar servikal di atas long spine board. Setelah pemasangan kolar servikal perhatian ditujukan kepada airway penderita. Ajak penderita berbicara dan apabila penderita dapat bericara dengan jelas menggunakan kalimat yang panjang hal itu menunjukkan bahwa kondisi airway dan breathing penderita dalam keadaan baik, kemungkinan penderita tidak mengalami syok serta kemungkinan tidak terdapat kelaianan neurologis.
Namun, apabila penderita tidak dapat menjawab kemungkinan airway mengalami gangguan. Sumbatan pada jalan nafas ( obstruksi ) akan ditandai dengan suara nafas antara lain bunyi gurgling ( bunyi kumur- kumur yang menandakan adanya cairan), bunyi mengorok ( snoring, karena pangkal lidah yang jatuh ke arah dorsal) ataupu bunyi stidor karena adanya penyempitan/ oedem. Tindakan penanganan apabila terdapat cairan lakukan suction untuk mengeluarkan cairan, apabila mengorok lakukan penjagaan jalan nafas secara manual yaitu chin lift atau jaw thrust disusul dengan pemasangan pipa oro atau nasofaringeal.




Gambar head tilt, chin lift                                                                                                                            Gambar jaw thrust
Pemasangan pipa orofaringeal ( guedel/ mayo ) jangan dilakukan apabila penderita masih dalam keadaan sadar karena akan menyebabkan penderita mengeluarkan pipa tersebut ( reflek gag). Dalam keadaan ini, lebih baik dipasang pipa nasofaringeal. Harus diingat bahwa pemasangan nasofaringeal merupakan kontraindikasi bagi penderita yang dicurigai basis kranii bagian depan karena pipa dapat masuk ke rongga kranium. Apabila penderita mengalami apneu, hal itu menandakan terdapatnya ancaman obstruksi ataupun ancaman aspirasi. Oleh sebab itu, pemasangan jalan nafas defintif menjadi pilihan yang diambil. Terapi definitif tersebut antara lain pembuatan jalan nafas melalui hidung ( nasotrakeal ), melalui mulut ( orotrakeal ) ataupun langsung melalui suatu krikotiroidiotomi.
b)     Breathing dan Ventilasi
Jalan nafas yang baik tidak menjamin ventilasi penderita dalam keadaan baik. Pertukaran gas yang terjadi pada saat bernafas adalah mutlak untuk pertukaran Oksigen dan Karbondioksida dari tubuh. Tiga hal yang dilakukan dalan breathing yaitu:
-          Nilai apakah breahing baik ( look, listen dan feel )
-          Ventilasi tambahan apabila breathing kurang adekuat
-          Berikan Oksigen sesuai indikasi
Penderita yang dapat berbicara kalimat panjang tanpa kesan sesak, maka breathing penderita baik. Pernafasan yang baik apabila frekuensi normal ( dewasa rata- rata 20 , anak 30, dan bayi 40 kali per menit), tidak ada gejala sesak dan pemeriksaan fisiknya baik.
Pemeriksaaan dilakukan dengan cara sebagai berikut:
-          Lihat dada penderita dengan membuka pakaian atas untuk melihat pernafasan yang baik. Lihat apakah terdapat jejas, luka terbuka dan ekspansi kedua paru.
-          Auskultasi dilakukan untuk memastikan masukknya udara ke dalam paru-paru dengan mendengarkan suara nafas ( sekaligus mendengarkan suara jantung).
-          Perkusi dilakukan untuk menilai adanya udara ( hipersonor) atau darah ( dull) dalam rongga pleura.
Cedera thorax yang dapat mengakibatkan gangguan ventilasi yang berat dan ditemukan pada saat melakukan survei primer antara lain tension pneumothorax, flail ches dengan kontusio paru, pneumothoraks terbuka dan hematotoraks masif.
Apabila pernafasan tidak adekuat  harus dilakukan bantuan pernafasan ( assited ventilation). Di UGD pemberian bantuan pernafasan dengan memakai bag valve mask ( ambu bag ) ataupun menggunakan ventilator. Pemberian oksigen dengan konsentrasi yang tinggi menggunakan rebreathing, non-rebreathing mask ataupun dengan kanul ( 5-6 LPM)



c)      Circulation dengan Kontrol Perdarahan
Langkah berikutnya adalah memeriksa akral dan nadi, apabila menemukan tanda syok segera atasi syok. Perdarahan merupakan penyebab utama kematian pasca bedah yang dapat diatasi dengan terapi yang cepat dan tepat di rumah sakit. Syok pada penderita trauma biasanya diasumsikan disebabkan oleh hipovolemia sampai terbukti penyebab lainnya sehingga diperlukan penilaian yang cepat mengenai status hemodinamik penderita.
1)      Pengenalan Syok
Terdapat dua pemeriksaan yanng dalam hitungan detik dapat memberikan informasi mengenai keadaaan hemodinamik, yaitu akral dan nadi.
-          Keadaan kulit akral
Warna kulit dapat membantu diagnosis hipobolemia. Penderita trauma yang kulitnya kemerahan terutama pada wajah dan ekstrimitas jarang dalam keadaan hipovolemia. Sebaliknya, wajah pucat keabu-abuandan kulit ektrimitas yang pucat serta dingin merupakan tanda syok.
-          Nadi
Nadi yang besar seperti arteri femoralis atau arteri karotis harus diperiksa bilateral untuk menilai kekuatan nadi,kecepatan dan irama. Pada keadaan syok, nadi akan melemah/ kecil dan cepat.
Pada fase awal jangan terlalu percaya dengan tekanan darah dalam menentukan apakah penderita mengalami syok ataupun tidak karena tekanan darah penderita sebelumnya belum diketahui dan diperlukan kehilangan darah lebih dari 30 % untuk dapat terjadinya penurunan tekanan darah yang signifikan.
2)      Kontrol Perdarahan
Perdarahan dapat terjadi secara eksternal ( terlihat) maupun internal ( tidak terlihat). Perdarahan internal berasal dari rongga thoraks, rongga abdomen, fraktur pelvis, fraktur tulang panjang dan retroperitoneal.
-          Perdarahan Eksternal
Perdarahan eksternal dikendalikan dengan penekanan langsung pada luka dan jarang dilakukan penjahitan dalam mengendalikan perdarahan luar. Turniket ( tourniquet) jangan dipasang karena pemasangan turniket yang benar justru akan merusak jaringan akibat iskemia distal dari torniket.Pemakaian hemostat ( di klem ) memerlukan waktu dan dapat merusak jaringan sekitar seperti saraf dan pembuluh darah.
-          Perdarahan Internal
Spalk/ bidai dapat digunakan untuk mengontrol perdarahan dari suatu fraktur pada ekstrimitas. Pneumatic anti syok garment adalah suatu alat untuk menekan pada keadaan fraktur pelvis, tetapi alat ini mahal dan sulit didapat sehingga sebagai pengganti sering digunakan gurita sekitar pelvis. Perdarahan intraabdominal atau intrathorakal yang masif dan tidak diatasi dapat diatasi dengan pemberian cairan intravena yang adekuat memerlukan tindakan operasi dengan segera untuk menghentikan perdarahan ( resusitative laparato/ thoracotomy).
3)      Perbaiki Volume
Kehilangan darah sebaiknya diganti dengan darah, tetapi penyediaan darah membutuhkan waktu sehingga biasanya diberikan cairan kristaloid 1-2 liter untuk mengawasi syok hemoragik melalui 2 jalur dengan jarum intravena yang besar. Cairan kristaloid sebaiknya ringer laktat walauoun NaCl fisiologis juga dapat dipakai. Cairan diberikan dengan tetesan cepat melalui suatu kateter intravena yang besar minimal ukuran 16 ( diguyur/ grojog).Cairan juga harus dihangatkan untuk mengindari terjadinya hipotermia. Pemasangan kateter urin juga harus dipertimbangkan untuk memantau pengeluaran urin.
Saat dikenali syok ( penderita trauma) sambil dipasang infus, lakukan penekanan pada pendarahan luar ( bila ada ). Apabila tidak ada perdarahan luar dilakukan pencarian akan adanya perdarahan internal di 5 tempat yaitu thorax, abdomen, pelvis, tulang panjang dan retroperitoneal. Sambil mencari perdarahan internal lakukan evaluasi respon penderita terhadap pemberian cairan. Respon yang diberikan penderita ada 3 yaitu:
-            Respon baik: setelah diguyur, tetesan mulai dipelankan, penderita menunjukkan tanda- tanda perfusi baik ( kulit hangat, nadi menjadi besar dan melambat, tekanan darah mulai meningkat) Hal ini menandakan perdarahan sudah berhenti.
-            Respon sementara: setelah tetesan dipelankan, ternyata penderita mengalami syok lagi. Hal ini mungkin disebabkan oleh resusitasi cairan masih kurang atau perdarahan berlanjut.
-            Respon tidak ada: apabila sama sekali tidak terdapat respon terhadap pemberian cairan, maka harus difikirkan perdarahan yang heba atau syok non-hemoragik ( paling sering syok kardiogenik).
d)     Disability
Perdarahan intrakranial dapat menyebabkan kematian dengan sangat cepat sehingga diperlukan evaluasi keadaan neurologis secara cepat. Yang dinilai adalah tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil.
-          GCS ( Glasgow Coma Scale)
GCS adalah sistem skoring yang sederhana dan dapat meramal outcame dari penderita. Penurunan kesadaran dapat disebabkan oleh penurunan oksigenasi atau/ dan perfusi ke otak atau disebabkan oleh perlukaan pada otak sendiri. Perubahan kesadaranakan dapat mengganggu airway serta breathing yang seharusnya sudah diatasi terlebih dahulu. Jangan lupa bahwa alkohol dan obat-obatan dapat mengganggu tingkat kesadaran penderita. Penurunan tingkat GCS yang lebih dari satu ( 2 atau lebih ) harus sangat diwaspadai.
-          Pupil
Nilai adakah perubahan pada pupil. Pupil yang tidak sama besar ( anisokor) kemungkinan menandakan lesi masa intrakranial ( perdarahan).
-          Resusitasi
Terhadap kelainan primer di otak tidak banyak yang bisa dilakukan, tetapi yang harus diingat dalam penerimaan penderita di UGD harus dihindari adanya cedera otak sekunder ( secondary brain injury ). Yang harus dilakukan adalah terapi yang cepat/ agresif apabila terjadi hipovolemia, hipoksia dan hiperkarbia untuk menghindari cedera otak sekunder.
e)      Exposure/ Kontrol Lingkungan
Di rumah sakit seluruh pakaian penderita harus dibuka untuk evaluasi kelainan atau injury secara cepat pada tubuh penderita. Setelah pakaian dibuka perhatikan injury/ jejas pada tubuh penderita dan harus dipasang selimut agar penderita tidak kedinginan. Harus dipakaikan selimut yang hangat, ruangan cukup hangat dan diberikan cairan intravena yang sudah dihangatkan. Apabila pada primary survey dicurigai adanya perdarahan dari belakang tubuh lakukan long roll untuk mengethui sumber perdarahan.
f)       Folley Catheter/ kateter urine
Pemakaian kateter urine dan lambung harus dipertimbangkan. Jangan lupa mengambil sampel urine untuk pemeriksaan urine rutin. Produksi urin merupakan indikator yang peka untuk menilai keadaan hemodinamik penderita. Urine dewasa ½ /kg/kgBB, anak-anak 1 cc/KgBB/jam dan bayi 2 cc/KgBB/jam. Kateter urine jangan digunakan apabila ada dugaan terjadinya ruptur uretra. Ruptur uretra ditandai dengan adanya darah dilubang uretra bagian luar ( OUE/ Orifisium Uretra External ), adanya hematom di skrotum dan pada colok dubur prostat terletak tinggi/ tidak teraba.
g)      Gastic Tube/ Kateter Lambung
Kateter lambung dipakai untuk mengurangi distensi lambung dan mencegah muntah. Isi lambung yang pekat akan mengakibatkan NGT tidak berfungsi. Pemasangan NGT dapat mengakibatkan muntah. Darah dalam lambung dapat disebabkan darah tertelan, pemasangan NGT yang traumatik ( ada perlukaan lambung). Apabila lamina fibrosa patah ( fraktur basis kranii  anterior ), kateter lambung harus dipasang melalui mulut untuk mencegah masukknya NGT dalam rongga otak.
h)     Heart Monitoring/ Monitoring EKG
Monitoring hasil resusitasi didasarkan pada ABC penderita.
-          Airway seharusnya sudah diatasi.
-          Brathing: pemantauan laju nafas ( sekaligus pemantauan airway ) dan bila ada pulse oximetry.
-          Circulation: nadi, tekanan nadi, tekanan darah, suhu tubuh dan jumlah urine setiap jam. Apabila ada sebaiknya terpasang monitor EKG.
-          Disability: nilai tingkat kesadaran penderita dan adakah perubahan pupil.
i)        Foto Rontogen
Pemakaian foto rontogen harus selektif dan jangan mengganggu proses resusitasi. Pada penderita dengan trauma tumpul harus dilakukan 3 foto rutin yaitu foto servikal, thoraks ( AP ) dan Pelvis ( AP ). Foto servikal AP harus terlihat ke-7 ruas tulang servikal.
v  Survey  Sekunder ( Secondary Survey) dan Pengelolaannya
Survey sekunder adalah pemeriksaan teliti yang dilakukan dari ujung rambut sampai ujung kaki, dari depan sampai belakang dan setiap lubang dimasukkan jari ( tube finger in every orifice ). Survey sekunder hanya dilakukan apabila penderita telah stabil. Keadaan stabil yang dimaksud adalah keadaan penderita sudah tidak menurun, mungkin masih dalam keadaan syok tetapi tidak bertambah berat. Suvey sekunder harus melalui pemeriksaan yang teliti pada setiap lubang alami (  tubes and finger in every orifice )

a)      Anamnesis
Anamnesis harus lengkap karena akan memberikan gambaran mengenai cedera yang mungkin diderita. Beberapa contoh yang dapat dilhat sebagai berikut:
-          Tabrakan frontal seorang pengemudi mobil tanpa sabuk pengaman mengalami: cedera wajah, maksilofacial, servikal, thoraks, abdomen dan tungkai bawah.
-          Jatuh dari pohon setinggi 6 meter: perdarahan intrakranial, fraktur servikal atau vertebra lain, fraktur ekstrimitas.
-          Terbakar dalam ruangan tertutup: cedera inhalasi, keracunan CO.
Anamnesis juga harus meliputi anamnesis AMPLE. Riwayat AMPLE didapatkan dari penderita, keluarga ataupun petugas pra- RS yaitu:
  • A : alergi
  • M : medikasi/ obat-obatan
  • P : penyakit sebelumnya yang diderita ( misalnya hipertensi, DM )
  • L : last meal ( terakhir makan jam berapa )
  • E : events, yaitu hal-hal yang bersangkitan dengan sebab dari cedera.
b)   Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi, auskultasi, palpasi dan perkusi.
1)      Kulit Kepala
Seluruh kulit kepala diperiksa. Seringkali penderita tampak mengalami cedera ringan dan ternyata terdapat darah yang berasal dari belakang kepala. Lakukan inspeksi dan palpasi seluruh kepala dan wajah untuk melihat adanya laserasi, kontusio, fraktur dan luka termal.
2)      Wajah
Apabila cedera terjadi disekitar mata jangan lalai dalam memeriksa mata karena apabila terlambat akan terjadi pembengkakan pada mata sehingga pemeriksaaan sulit dilanjutkan. Lakukan Re-Evaluasi kesadaran dengan skor GCS.
-          Mata: periksa kornea mata ada cedera atau tidak, pupil : reflek terhadap cahaya, pembesaran pupil, visus
-          Hidung: apabila terdapat pembengkakan lakukan palpasi akan kemungkinan krepitasi dari suatu fraktur.
-          Telinga: periksa dengan senter mengenai keutuhan membran timpani atau adanya hemotimpanum.
-          Rahang atas: periksa stabilitas rahang atas.
-          Rahang Bawah: periksa akan adanya fraktur.
3)      Vertebra Servikalis dan Leher
Pada saat memeriksa leher, kolar terpaksa dilepas. Jangan lupa untuk melakukan fiksasi pada leher dengan bantuan petugas lain. Periksa adanya cedera tumpul atau tajam. Deviasi trakea dan simetri pulsasi. Tetap jaga imobilisasi segaris dan proteksi servikal. Jaga airway, pernafasan dan oksigenasi. Kontrol perdarahan, cegah kerusakan otak sekunder.
4)      Thoraks
Pemeriksaan dilakukan dengan look, listen, feel.
Inspeksi : dinding dada bagian depan, samping dan belakang untuk adanya trauma tumpul/ tajam, pemakaian otot pernafasan tambahan dan ekspansi torak bilateral.
Auskultasi: lakukan auskultasi pada bagian depan untuk bising nafas ( bilateral ) dan bising jantung.
Palpasi: lakukan palpasi pada seluruh dinding dada untuk adanya traumatajam/ tumpul, emfisema subkutan, nyeri tekan dan krepitasi.
Perkusi: lakukan perkusi untuk mengetahui adanya hipersonor dan keredupan.
5)      Abdomen
Cedera intraabdomen biasanya sulit terdiagnosa , berbeda dengan  keadaan cedera kepala yang ditandai dengan penurunan kesadaran, fraktur vertebrae dengan kelumpuhan ( penderita tidak sadar akan keluhan nyeri perutnya dan defans otot/ nyeri tekan).
Inspeksi: inspeksi abdomen bagian depan dan belakang untuk melihat adanya trauma tajam, tumpul dan adanya perdarahan internal.
Auskultasi: auskultasi bising usus untuk mengetahui adanya penurunan bising usus.
Palpasi: palpasi abdomen untuk mengetahui adanya nyeri tekan, defans muskuler, nyeri lepas yang jelas.
Perkusi:lakukan perkusi mengetahui adanya nyeri ketok, bunyi timpani akibat dilatasi lambung akut atau redup bila ada hemoperitoneum.
Apabila ragu-ragu mengenai perdarahan intrabdomen dapat dilakukan pemeriksaan DPL ataupun USG.
6)      Pelvis
Cedera pelvis yang berat akan tampak pada pemeriksaan fisik ( pelvis menjadi tidak stabil). Pada cedera berat ini, kemungkinan penderita akan masuk dalam keadaan syok yang harus segera diatasi. Bila ada indikasi lakukan pemasangan PASG/ gurita untuk kontrol perdarahan dari fraktur pelvis.
7)      Ektrimitas
Pemeriksaan dilakukan dengan look-feel-move. Pada saat inspeksi, jangan lupa untuk memeriksa adanya luka dekat daerah fraktur terbuka, pada saat palpasi jangan lupa untuk memeriksa denyut nadi distal dari fraktur dan jangan dipaksakan untuk bergerak apabila sudah jelas mengalami fraktur. Sindroma kompartemen ( tekanan intrakompartemen dalam ekstrimitas meninggi sehingga membahayakan aliran darah) mungkin akan luput dari diagnosis pada penderita yang mengalami penurunan kesadaran.
8)      Bagian Punggung
Periksa punggung dengan long roll ( memiringkan penderita dengan tetap menjaga kesegarisan tubuh).
c)    Tambahan Terhadap Survey Sekunder
Pada secondary survey pertimbangkan perlunya diadakan pemeriksaan tambahan seperti foto tambahan, CT-scan, USG, endoskopi dsb.
v  Re-Evaluasi Penderita
Penilaian ulang penderit dengan mencatat, melaporkan setiap perubahan pada kondisi penderita dan respon terhadap resusitasi. Monitoring tanda-tanda vital dan jumlah urine.
v  Transfer ke Pelayanan Definitif
Terapi definitif pada umumnya merupakan porsi dari dokter spesialis bedah. Tugas dokter yang melakukan penanganan pertama adalah untuk melakukan resusitasi dan stabilisasi serta menyiapkan penderita untuk dilakukannya tindakan definitive atau untuk dirujuk. Proses rujukan harus sudah dimulai saat alas an untuk merujuk ditemukan, karena menunda rujukan akan meninggikan morbiditas dan mortalitas penderita. Keputusan untuk merujuk penderita didasarkan atas data fisioligis penderita, cedera anatomis, mekanisme perlukaan, penyakit penyerta serta factor- faktor   yang dapat mengubah prognosis. Idealnya dipilih rumah sakit terdekat yang cocok dengan kondisi penderita. Tentukan indikasi rujukan, prosedur rujukan, kebutuhan penderita selama perjalanan dan cara komunikasi dengan dokter yang akan dirujuk.

Daftar Pustaka
Anonim. 2010. Basic Trauma Life Support dan Basic Cardiac Life Support ed. III. Jakarta: Yayasan ambulans Gawat Darurat 118
…….. Buku Panduan Basic Trauma Cardiac Life Support. Jakarta: Yayasan Ambulans Gawat Darurat 118
Darwis, Allan dkk. 2005. Pedoman Pertolongan Pertama. Ed 2. Jakarta : Kantor Pusat Palang Merah Indonesia.
Doenges, Marylinn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC
Price. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Volume 1. Edisi 6. Jakarta : EGC
Smeltzer, Suzanne C dan Bare , Brenda. G.2001. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Vol.3. Jakarta :EGC
Suryono, Bambang dkk. 2008. Materi Pelatihan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat ( PPGD) dan Basic life Support Plus ( BLS ). Yogyakarta: Tim PUSBANKES 118 BAKER-PGDM PERSI DIJ

Senin, 10 Maret 2014

Apa Beda Etanol dan Metanol ?

Apa beda etanol dan metanol ?

Etanol (etil alkohol) dan metanol (metil alkohol) merupakan senyawa kimia yang tergolong
sebagai senyawa alkohol. Yang membedakaan adalah rumus kimianya, jika etanol adalah C2H5OG,
metanol berumuskan CH3OH. Tentu sifat-sifatnya juga akan berbeda walaupun juga banyak persamaannya.

Etanol adalah senyawa alkohol yang biasa terdapat dalam minuman beralkohol,
seperti bir, wine, brandy, dan lain-lain. Ia biasa diperoleh dari fermentasi buah-buahan atau gandum.
Metanol umumnya bukan dikonsumsi sebagai minuman karena sifatnya yang
lebih beracun dan dipakai sebagai bahan bakar.
Jika Anda liat spiritus yang diberi warna biru itulah metanol. Mengapa diberi warna
demikian? Supaya orang bisa membedakannya dan tidak menggunakan secara salah.

Sama halnya dengan etanol. Metanol merupakan cairan jernih, tidak berwarna dan
merupakan cairan yang mudah terbakar. Sejarahnya, ia merupakan hasil destilasi
kayu, sehingga sering disebut juga alkohol kayu (wood alcohol). Saat ini metanol dibuat secara sintetik dengan mereaksikan hidrogen dengan karbo monoksida atau
karbon dioksida. Metanol memiliki berat molekul 32g/mol, lebih ringan dibandungkan air dan mendidih pada suhu 65 derajat C.

Metanol utamanya di pakai sebagai bahan awal (starting material) pada sintesis
berbagai senyawa kimia seperti formaldehid, asam asetat, metakrilat, etil glikol, dan lain-lain. Metanol juga banyak dipakai sebagai cairan pembersih kaca mobil. pembersih karburator. antibeku, toner mesin fotokopi dan bahan bakar.

Apa yang terjadi pada metanol di dalam tubuh manusia ?

Paparan metanol ke dalam tubuh manusia bisa melalui hitupan (inhalasi)
penyetapan melalui kulit, atau tertelan (sengaja diminum seperti dalam beberapa kasus mitas maut). Metanol sangat mudah diserap oleh tubuh melalui
berbagai rute paparan tadi, dan segera didistribusikan kedalam organ dan
jaringan tubuh yang mengandung air.

Konsentrasi tertinggi akan dijumpai berturut-turut pada darah, cairan tubuh,
empedu, otak, ginjal, paru dan limpa. Didalam hati (liver), metanol akan dioksidasi menjadi formaldehid (formalin) dengan bantuan enzim alcohol
dehydrogenase dan kemudian dimetabolisir lebih lanjut menjadi asam format
oleh enzim formaldehid dehidrogenase. Perubahan dari formaldehid menjadi asam format sangat cepat dengan wajtu paro selama 1 - 2 menit sehingga tidak
terjadi akumulasi formaldehid dalam tubuh. Asam format selanjutnya dapat
diubah menjadi 10-formiltetrahidrofolat yang dapat dimetabolisir lebih lanjyt menjadi karbon diaoksida sebagai upaya detoksifikasi dari tubuh. Kecepatan
perubahan asam format menjadi metabolitnya tergantung ketersediaan tetrahidrofolat dalam hati.
Namun demiakian, waktu paruh asam format didalam tubuh cukup panjang yaitu 20-24jam.

Bagaimana mekanisme keracunan metanol ?

Efek toksik/racun metanol terutama disebabkan oleh pembentukan asam format.Walaupun formaldehid (formalin) itu sendiri cukup toksik, tetapi ia cepat dimetabolosir menjadi asam format sehingga kadar formalin dalam darah justru sangat kecil.
Asam format dimetabolisir secara lambat sehingga pada umumnya akan terakumulasi didalam tubuh melenihi kemampuan tubuh untuk mendetoksifikasinya.

Terdapat varian signifikanpada manusia mengenai dosis toksik maupun dosis letal (yang menyebabkan kematian) akibat metanol. Sebuah studi menyebutkan bahwa dosis letal minimal adalah berkisar 300-100 mg/kg berat badan.
Ada lagi yang menyebutkan bahwa dosis letal akibat minum metanol adalah 15ml metanol 40%. Ada lagi yang melaporkan dosis letal sebesar 500ml metanol 40%.
Minum sedikitnya 4-10ml metanol dapat menyebabkan kebutaan permanen.

Adapun tahapan kejadian efek toksik metanoldapat dijelaskan sebagai berikut :

Fase pertama adalah penekanan pada sistem saraf pusat. Peristiwa ini terjadi dalam waktu 30 menit hingga 2 jam. Dengan durasi yang bisa lebih pendek dari pada paparan etanol.

Fase kedua adalah fase laten tanpa gejala. Pada tahap ini gejala belum muncul walaypun sifarnya bervariasi antar orang, tergantung dari kemampuan hati untuk mendetoksifikasinya.

Fase ketiga adalah fasi terjadinya asidosis metabolik dengan terbentuknya dan terakumulasinya asam format dalam tubuh. Gejala awal umumnya terjadi dalam
12-24 jam setelah paparan. Interval antara paparan dengan munculnya gejala tergantung kepada volume metanol yang terpaparkan. Pasien mulai merasakan pusing, mual, muntah, dan nyeri ulu hati. Pada keadaan yang lebih berat bisa
terjadi kejang, pendarahaan pada pankreas, koma dan terjadi kematian.

Fase keempat atau fase terakhir adalah kebutaan. Kebutaan akibat metanol telah dilaporkan kejadiaannya sehak tahun 1910.
Jika pasien masih bertahan setelah mengalami asidosis metabolik, maka tahap
selanjutnya adalah munculnya gangguan visual yang dapat terjadi dalam waktu
12-48 jam setelah paparan metanol. Asam format yang terakumulasi di dalam saraf mata menyebabkan cedera pada retina mata dan juga menghambat metabolisme normal pada sel saraf optik (mata) sehingga menyebabkan gejala bvisual seperti tidak tahan cahaya (fotofobia) pandangan kabur, sampai pada kebutaan.

Apa yang hatus dilakukann jika terkena paparan metanol ?

Petama, tentu harus memberishkan diri dari paparan. Jika terkena pada kulit segera cuci daerah yang terkena dengan air hangat dan sabun sedikitnya selama 10-15 menit.

Jika terkena paparan metanol pada mata, maka cuci mata dengan cairan pencuci mata yang umum digunakan.

Jika terhirup atau tertelan, segera minta bantuan kesehatan dari dokter untuk
dilakuakn usaha-usaha detoksifikasi dan pengatasan gejala toksisitas. Beberapa cara detoksikasi metanol dan pengatasan gejala toksik antar lain adalah :

1. Pemberian pekak atau bilas lambung, ini hanya akan berguna jika paparan masih dalam waktu 2 jam.

2. Kejangnya bisa diatasi dengan pemberian fenitoin (250mg IV dalam 5 menit)

3. Pemberian etanol sebagai antidot diberikan secara intravena sebagai larutan etanol 10% solution dalam 5% dextrose. Dosisi muatan (awal) 0.6g/kg perlu diberikan, diikuti dengan dosis 0.07g/kg/jam secara intravena untuk yang bukan peminum alkohol. Untuk peminim alkohol (etanol) perl diberi dosis 0.16g/kg/jam.  Etanol memiliki afinitas (kemampuan mengikat enzim alkohol dehidrogenase 10-20 kali lebih kuat dibandingkan metanol sehingga mengurangi pembentukan asam format sebagai hasil metabolisme metanol.

4. Dilakukan hemodialisa (cuci darah) untuk mengeluarkan sisa metanol maupun metabolitmya dari dalam tubuh. Pada keadaan ini, etanol tetap diberikan.

5. Obat lain yang dapat diberikan adalah 4-methylpyrazole (10-0mg/kg/d orally0 yang merupakan inhibitor alcohol dehydrogenase.

6. Metabolik asidosisnya perlu dikoreksi menggunakan pemberian sodium bikarbonat (NaHCO3) secara intravena.

Demikian sedikit papatran tentang toksinitas metanol. Metanol jauh lebih taksik daripada etanol dan sebaiknya dihindari dalam pengguaan minuman beralkohol.

Jumat, 07 Maret 2014

9 Makanan Mengenyangkan dan Membuat Langsing


Saat menggambarkan sebuah makanan yang sempurna, Anda mungkin berpikir tentang sehat, lezat, besar dan cukup untuk membuat Anda merasa kenyang. Kriteria makanan sempurna itu menurut Barbara Rolls, PhD, penulis buku "Ultimate Volumetrics Diet" adalah makanan yang kaya serat dan protein.

Bukan hanya membuat Anda kenyang lebih lama, makanan-makanan yang kaya serat dan protein juga membuat tubuh lebih ramping. Dilansir Time, berikut 9 makanan sempurna yang buat Anda kenyang lebih lama.

Kentang panggang
Dalam sebuah penelitian yang mengukur indeks mengenyangkan dari 38 makanan, termasuk beras merah dan roti gandum, kentang rebus berada pada peringkat tertinggi. Kentang dianggap lebih mampu membuat tubuh kenyang lebih lama, sedikitnya dua jam setelah dikonsumsi. Meskipun kentang sering dijauhi karena dianggap sebagai makanan yang tinggi karbohidrat, kentang justru memiliki vitamin, serat dan nutrisi lainnya yang dapat membuat energi levih stabil. Konsumsi kentang rebus dengan kulit mendapatkan lebih banyak serat dalam 160 kalori.

Telur
Sebuah penelitian dari Saint Louis University ditemukan bahwa orang yang makan telur untuk sarapan akan  mengkonsumsi 330 lebih sedikit kalori sepanjang hari.

"Telur adalah salah satu dari beberapa makanan yang memiliki protein lengkap. Ia mengandung sembilan asam amino esensial yang dibutuhkan oleh tubuh," kata Joy Dubost, RD, juru bicara Academy of Nutrition and Dietetics.

Setelah dicerna, asam amino dalan telur akan memicu pelepasan hormon  di usus yang menekan nafsu makan.

Sup kacang merah
"Makanan yang memiliki kandungan air tinggi, akan membuat perut Anda mencerna lebih sedikit kalori," ujar Rolls.

Sup kacang merah mengandung serat dan pati resisten-karbohidrat dengan dosis besar. Pati resisten-karbohidratnya mampu memperlambat pelepasan gula ke dalam aliran darah dan membuat Anda kenyang lebih lama.

Yogurt Yunani
Sebuah penelitian di Harvard pernah meneliti kebiasaan makan 120.000 orang selama 20 tahun dan menemukan bahwa yogurt adalah makanan terbaik untuk menurunkan berat badan. Sementara itu, Nestlé Nutrition Institute juga pernah menemukan bahwa mengkonsumsi protein susu dapat meningkatkan rasa kenyang, mengurangi asupan makanan dan menjaga gula darah tetap stabil.

"Yogurt Yunani mengandung dua kali lipat protein dan sedikit gula dibanding yogurt biasa," kata Dubost.

Apel
Apel adalah salah satu dari beberapa buah yang mengandung pektin, yang secara alami memperlambat pencernaan dan meningkatkan rasa kenyang, menurut sebuah penelitian di Gastroenterology.

"Apel membutuhkan waktu lama untuk diproses tubuh dan memiliki sedikit kalori," ujar Susan Roberts, PhD, profesor nutrisi di Tufts University.

Dengan mengkonsumsi apel, tubuh Anda akan memiliki lebih banyak waktu untuk memberitahu otak bahwa Anda tidak lagi lapar.

Brondong jagung
Menikmati film dengan brondong jagung dapat membantu tubuh merasa keyang lebih lama.

"Mengonsumsi semangkuk besar popcorn dapat menjadi trik untuk memgelabui tubuh, bahwa Anda makan lebih banyak kalori dan akan merasa kenyang setelahnya," ujar Rolls.

Buah Ara
Buah ara segar memiliki konsistensi padat dan daging manis yang tinggi serat. Buah ini mampu memperlambat pelepasan gula ke dalam darah dan mencegah keinginan mengkonsumsi cookies atau kue.

Oatmeal
Oatmeal memiliki kandungan serat yang tinggi dan kemampuan menyerap cairan yang luar biasa seperti spons. Saat dimasak dengan air atau susu krim, oatmeal akan menebal dan dan mengambil lebih banyak waktu untuk melewati sistem pencernaan Anda, yang berarti Anda akan merasa kenyang lebih lama.

Smoothies
Saat tidak banyak minuman yang mampu membuat tubuh merasa kenyang lebih lama, smoothies justru membuat tubuh merasa kenyang dan makan lebih sedikit. Ini diungkapkan oleh penelitian dari Penn State University. Tapi pastikan Anda tidak membuat smoothie yang terlalu manis dan memberinya tambahan kalori seperti jus buah atau sirup rasa, yang akan menghilangkan manfaat kesehatannya.