Selasa, 22 April 2014

Apa Itu Hiponatremia ?

Hiponatremia (Inggris:''hiponatremia'') adalah sebuah gangguan elektrolit (gangguan pada garam dalam darah) di mana natrium (''''Natrium dalam bahasa Latin) konsentrasi dalam plasma lebih rendah dari normal (hipo''' 'dalam bahasa Yunani), khususnya di bawah 135 mEq / L. Sebagian besar kasus hiponatremia terjadi dalam hasil orang dewasa dari jumlah berlebih atau efek dari hormon penahan air yang dikenal sebagai hormon antidiuretik ADH biasa disingkat.

Hiponatremia paling sering merupakan komplikasi dari penyakit medis lain di mana baik cairan kaya natrium yang hilang (misalnya karena diare atau muntah), atau kelebihan air terakumulasi dalam tubuh pada tingkat yang lebih tinggi daripada yang dapat diekskresikan (misalnya dalam polidipsia (jarang) atau sindrom hormon antidiuretik yang tidak tepat, SIADH). Mengenai hilangnya natrium sebagai penyebab hiponatremia, penting untuk dicatat bahwa kerugian tersebut mempromosikan hiponatremia hanya dengan cara tidak langsung. Secara khusus, hiponatremia yang terjadi dalam hubungan dengan hilangnya natrium tidak mencerminkan ketersediaan natrium memadai sebagai akibat dari kerugian. Sebaliknya, hilangnya natrium menyebabkan keadaan deplesi volume, dengan deplesi volume melayani sebagai sinyal untuk pelepasan ADH. Sebagai hasil dari ADH-dirangsang retensi air, natrium darah menjadi hasil diencerkan dan hiponatremia.

Mungkin juga ada hiponatremia palsu (hiponatremia pseudohyponatremia atau tiruan) jika zat-zat lain memperluas serum dan encer natrium (misalnya, gula darah tinggi (hiperglikemia) atau jika konstituen darah mengarah ke penciptaan fase natrium-bebas dalam darah sehingga menyebabkan volume plasma darah menjadi berlebihan (hipertrigliseridemia ekstrim misalnya).

Hiponatremia juga dapat mempengaruhi atlet yang mengkonsumsi terlalu banyak cairan selama acara ketahanan, orang yang berpuasa di jus atau air untuk waktu yang lama dan orang-orang yang diet asupan natrium cukup kronis.

Diagnosis hiponatremia bergantung terutama pada pemeriksaan, riwayat medis klinis dan darah dan tes urine. Pengobatan dapat diarahkan pada penyebab (misalnya, kortikosteroid dalam penyakit Addison) atau melibatkan pembatasan asupan air, garam intravena atau obat-obatan seperti diuretik, demeclocycline, urea atau vaptans (antagonis reseptor hormon antidiuretik). Memperbaiki keseimbangan garam dan cairan perlu dilakukan secara terkendali, sebagai koreksi terlalu cepat dapat mengakibatkan komplikasi berat seperti gagal jantung atau kadang-kadang lesi otak ireversibel dikenal sebagai mielinolisis pontine pusat.

Senin, 24 Maret 2014

Cara penularan HIV AIDS

1 Melalui Cairan Darah
=> penularan melalui cairan darah ini bisa terjadi saar penggunaan jarum suntik yang sudah tercemar HIV. Sebagai contoh adalah pemakaian jarum suntik pada pecandu nakoba atau transfusi darah (sekarang untuk kasus transfusi darah sudah tidak ada lagi karena dilakukan dengan alat transfusi yang steril) Ini juga bisa terjadi saat pemakaian jarum suntik yang berulang kali dalam kegiatan lain, misalnya : penyuntikan obat, imunisasi, pemakaian alat tusuk yang menembus kulit, misalnya alat tindik, tato, dan alat facial wajah.

2. Melalui Cairan Sperma dan Cairan Vagina
=> melalui hubungan seks tanpa menggunakan kondom dengan berganti-ganti pasangan sementara satu diantaranya terinfeksi.

3. Melalui Air Susu Ibu

=> mungkin terjadi pada pengidap HIV yang meleharikan melalui normal (vagina) kemudian menyusui bayinya dengan ASI. Kemungkinan penularan dari ibu ke bayi (mother to child transmission) ini berkisar hingga 30% artinya dari setiap 10 kehamilan dari ibu HIV positif kemungkinan ada 3 bayi yang lahir dengan HIV Positif.

AIDS TIDAK MENULAR saat :
1. Makan dan minum bersama atau pemakaian alat makan minum bersama
2. pemakaian fasilitas umum bersama, seperti telepon umum, WC umum, dan kolam renang.
3. Ciuman, senggolan, pelukan dan kegiatan sehari-hari lainnya atau melalu keringat atau gigitan nyamuk.

Mengapa Perlu Vaksinasi Pada Anak-Anak ?

Pada masa kini jarang sekali anak yang belum pernah divaksinasi, sehingga istilah vaksinasi ataupun imunisasi telah lekatr di telinga kita. Namun seringkali kita tidak tahu apa itu vaksin dan mengapa anak ataupun kita perlu vaksinasi.

Vaksin adalah suatu sediaan farmasi yang mengandung agen infeksi (penyebab penyakit) baik mikroba ataupun virus yang telah dilemahkan atau dimatikan atau merupakan bagian-bagian sel (dinding sel atau protein-protein permukaan). Berdasarkan pada komponen vaksin, maka vaksin dibagi menjadi 3 kelompok besar yaitu :

1. Vaksin yang dilemahkan, yaitu vaksin yang agen infeksinya dilemahkan sehingga tidak dapat menyebabkan penyakit. misalnya vaksin polio, MMR, BCG.

2. Vaksin dimatikan, yaitu vaksin yang agen infeksinya dimatikan, misalkan vasin DPT ( difteria, pertusis, dan tetanus)

3. Vaksin subunit, yaitu vaksin yang mengandung bagian-bagian dari agen infeksi, misalnya vaksin Hepatitis B. Vaksin subunit dibuat karena agen infeksinya terlalu bahaya kalau dibuat menjadi vaksin dilemahkan atau dimatikan.

Vaksin dapat juga digolongkan sebagai vaksin tunggal yang hanya mengadnung satu agen infeksi, misalnya vaksin Hepatitis B dan vaksin kombinasi, yang mengandung lebih dari satu agen infeksi, misalnya vaksin DPT (difteria, pertusis, dan tetanus)

Mengapa perlu di buat vaiksin kombinasi dan apa keuntungannya?
Anak-anbak kita sejak bayi sampai akil balig, seharusnya menerima vaksin sampai dengan 70 kali suntikan. Oleh karena ini apabila beberapa vaksin digabung seperti DPT, maka ada beberapa keuntungan. Yang pertama jumlah suntikan menjadi hanya sekitar 20an. ini mengurangi trauma karena suntikan. Kedua meningkatkan efisiensi, dengan satu suntikan mencegah beberapa penyakit sekaligus. Ketiga, penghematan biaya yang digunakan untuk mendapatkan vaksin. Keempat, lebih aman terhadap senyawa-senyawa pembantu yang digunakan untuk membuat vaksin.

Apakah kegunaan divaksinasi dan mengapa anak-anbak perlu di vaksinasi?

Apabila seseorang terjangkit penyakit infeksi, setelah sembuh maka orang tersebut dapat menjadi kebal terhadap agen infeksi penyebab sakitnya karena sistem imum atau sistem pertahanan tubuhnya mampu mengatasi dan membuat penangkalnya. Proses yang sama terjadi jika vaksin tertentu dimasukkan kedalam tubuh kita. Agen infeksi yang terdapat didalam vaksin tersebut akan dapat menginduksi sistem imun kita sehingga dapat memunculkan sifat kekebalan terhadap agen infeksi yang bersangkutan.

Misalkan vaksi DPT membuat kita akan kebal terhadap penyakit difteria, pertusis dan tetanus. Perbedaannya adalah dengan menggunakan vaksin kita harus sakit terlebih dahulu, sehingga menjadi lebih nyaman. Apabila suatu ketika ada agen infeksi patogen masuk kedalam tubuh seseorang yang telah divaksinasi maka sistem imun yang telah mengenal agen infeksi bersangkuran dapat dengan efektif mencegah terjangkit penyakit atau menurunkan secara signifikan kemungkinan terjangkit penyakit.

Mengapa seorang anak sejak lahir sampai akhir balig perlu vaksinasi?

Sampai saat ini banyak sekali penyakit-penyakit yang sering muncul dan menyerang anak-anak karena mereka lebih rentan. misalkan campak, gabagen, gondongen (MMR), polio, cacar air, batuk rejan, digteria, dan diare. Oleh sebab itu agar anak-anak tidak mudah terjangkit penyakit-penyakit tersebut, maka perlu divaksinasi. Perlu pula dipahami walaupun didaerah sekitar kita tidak ada lagi penyakit infeksi tertentu, bukan alasan untuk tidak vaksinasi (utamanya anak-anak).

hal ini disebabkan karena dewasa ini dunia telah menjadi semakin sempit. Kita masih ingat bahwa pada tahun 2005. Indonesia menyatakatan telah bebas dari polio sehingga sebagian anak-anak Indonesia tidak lagi menerima vaksin polio. Namun pada tahun 2006, ditemukan seorang balita terkena polio di daerah Sukabumi. Kok bisa? Setelah diteliti ternyata virus polio tersebut berasal dari Afrika yang belum bebas dari polio. Sistem transportasi modern ini telah memungkinkan perjalanan menjadi lebih cepat. Hari ini masih di Kalimantan Timur, besuk pagi telah berada di London. Demikian pula dengan penyebaran penyakit yang membonceng manusia. Oleh karena itu, vaksinasi menjadi sangat penting.

Dalam perjalanan waktu yang sudah terbukti bahwa vaksinasi dapat menurunkan secara signifikan tingkat keterjadian penyakit-penyakit tersebut diatas. Bahkan beberapa jenis penyakit kanker pun sekarang dapat dicegah menggunakan vakasin. Salah stau sukses besar dunia dalam menghilangkan penyakit infeksi adalah ketika WHO pada tahun 1975 menyatakan bahwa dunia telah bebas dari penyakit cacar. Dalam beberapa tahun mendatang giliran penyakit polio, mudah-mudahan. Sukses tersebut juga disebabkan karena virus cacar tidak mempunyai inang (tempat berkembang biak) lain selain manusia, sehingga apabila semua manusia telah kebal maka virus tersebut tidak dapat hidup lagi. Hal yang sama tentu tidak bisa terjadi apabila mikroba atau virus tertentu mempunyai inang lain selain manusia, misalkan virus flu burung, flu babi.

Mengapa vaksinasi dilakukan berulang kali?

dalam kehidupan kita semakin kita bertemu denbgan tetangga maka kita akan lebih mengenal tetangga kita. demikian juga sistem imum kita. Pada vaksinasi pertama. sistem imun diperkenalkan dengan agen infeksi yang terdapat dalam jumlah vaksin. Pada vaksinasi kedua, sistem imun akan melakukan penyesuaian-penyesuaian untuk mengenali agen infeksi lebih baik demikian seterusnya. Namun jika terlalu sering dilakukan vaksinasi dengan vaksin yang sama justru tidak baik. Karenaa, apabila pengenalan sistem imun terhadap suatu agen infeksi terlalu baik justu akan menurunkan efektivitas karena kemudian agen infeksi tersebut dapat dianggap keluarganya sendiri, sehingga tidak lagi dikenali sebagai ancaman.

Jumat, 21 Maret 2014

Jenis-Jenis Imunisasi, Manfaat dan Jadwal Pemberiannya

Imunisasi bisa meningkatkan imunitas tubuh dan menciptakan kekebalan terhadap penyakit tertentu dengan menggunakan sejumlah kecil mikroorganisme yang dimatikan atau dilemahkan. Ada beberapa jenis imunisasi yang direkomendasikan oleh American Academy of Pediatrics (AAP) kepada anak-anak:

1. Imunisasi Hepatitis B, berfungsi untuk melindungi hati. Jika anak terinfeksi virus hepatitis B, maka dalam jangka panjang ia memiliki risiko terserang penyakit liver ataupun kanker hati. Imunisasi ini harus diberikan kepada anak-anak sebanyak tiga kali. Pertama kali diberikan segera setelah si kecil lahir. Yang kedua kalinya saat ia berusia 1-2 bulan. Dan yang terakhir, saat berusia 6-18 bulan.

2. Imunisasi Pneumococcal Conjugate Vaccine (PVC). Imunisasi ini berfungsi melindungi anak dari risiko terkena pneumonia, infeksi dalam darah, dan meningitis. Imunisasi PCV diberikan saat anak berusia di bawah dua atau lima tahun.

3. Imunisasi DTaP, yang fungsinya melindungi anak dari difteri, tetanus, dan pertusis. Difteri merupakan infeksi pada tenggorokan yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan. Tetanus adalah penyakit yang menyebabkan kejang yang sangat hebat pada otot. Pertusis merupakan penyakit pernapasan yang berkembang menjadi batuk rejan. Imunisasi DTaP diberikan saat anak berusia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 15-18 bulan, dan 4-6 tahun.

4. Imunisasi Haemophilus Influenzae tipe B (HIB), yaitu imunisasi yang melindungi anak dari penyakit meningitis. Imunisasi diberikan melalui suntikan pada usia 2 bulan, 4 bulan, dan 6 bulan.

5. Imunisasi polio, bermanfaat untuk mencegah anak terinfeksi virus polio yang berakibat pada kelumpuhan permanen. Imunisasi polio biasanya diberikan pada saat anak berusia 2 bulan, 4 bulan, 6-18 bulan, dan 4-6 tahun.

6. Imunisasi MMR (Measles Mumps Rubella), yang berfungsi anak dari campak, gondok, dan rubella. Imunisasi MMR diberikan melalui dua kali suntikan, yaitu saat usia 12-15 bulan dan usia 4-6 tahun.

7. Imunisasi Varicella yang memiliki fungsi melindungi anak dari cacar air. Imunisasi varicella diberikan melalui suntikan saat usia 12-15 bulan.

8. Imunisasi terhadap virus Hepatitis A. Imunisasi ini dianjurkan untuk anak usia 12-23 bulan, dan diikuti dosis keduanya 6 bulan kemudian.

9. Imunisasi Rotavirus. Imunisasi ini berfungsi mencegah diare hingga dehidrasi pada anak terutama pada bayi. Imunisasi dianjurkan diberikan pada anak usia 2-4 bulan.
Dengan memberikan imunisasi yang lengkap sesuai waktunya, berarti Bunda sudah memberikan perlindungan tambahan kepada buah hati tercinta. Dengan imunitas yang baik, si kecil akan dapat tumbuh dengan sehat dan tanpa hambatan, serta terhindar dari penyakit-penyakit berat. Jangan segan untuk mengkonsultasikan hal ini dengan dokter anak atau bidan di lingkungan tempat tinggal kita. Dengan tubuh sehat dan kuat, anak-anak pasti bisa meraih masa depan yang lebih cerah.

Jadwal Imunisasi 

 http://www.tanyadok.com/wp-content/uploads/2011/01/Jadwal-Imunisasi-2010.bmp

Bagaiman Garam Mengakibatkan Hipertensi?

Hipertensi/tekanan darah tinggi adalah silent killer karena penyakit ini sering kali datang tanpa gejala apapun. Garam adalah hal yang sering dipersalahkan ketika seseorang mengidap hipertensi.
Bahkan, setelah diagnosa pertama, si penderita pantang untuk mengonsumsi garam dalam jumlah yang berlebih. Namun, apa daya, sehari-hari orang-orang tidak mungkin bisa makan tanpa adanya sejumput garam dalam makanannya.
Garam yang berlebihan dan terakumulasi inilah yang akhirnya mencetuskan penyakit hipertensi pada masyarakat dewasa ini. Garam tidak hanya biang kerok untuk masalah hipertensi yang bisa mengganggu fungsi jantung tetapi juga organ lain seperti ginjal. Nah, bagaimana sebenarnya cara garam meningkatkan tekanan darah? Ini dia penjelasannya.

Garam dan Penahanan Cairan

Untuk mengetahui cara garam menstimulasi tekanan darah tinggi maka kita perlu mengenal apa itu tekanan darah tinggi/hipertensi. Hipertensi adalah keadaan dimana darah yang mengalir dalam pembuluh darah lebih cepat dan keras dari yang seharusnya.
Tekanan keras pada pembuluh yang sebenarnya tidak diperlukan akan membuat pembuluh darah melemah. Garam dalam jumlah yang normal memang diperlukan tubuh untuk menahan cairan agar ketika dalam cuaca panas atau selepas berolahraga, tubuh dapat mengeluarkan keringat.
Namun, dalam kasus lain jika garam yang dikonsumsi berlebihan, ginjal yang bertugas untuk mengolah garam akan menahan cairan lebih banyak daripada yang seharusnya di dalam tubuh.
Banyaknya cairan yang tertahan menyebabkan peningkatan pada volume darah seseorang atau dengan kata lain pembuluh darah membawa lebih banyak cairan.
Beban ekstra yang dibawa oleh pembuluh darah inilah yang menyebabkan pembuluh darah bekerja ekstra yakni adanya peningkatan tekanan darah di dalam dinding pembuluh darah.

Garam dan Hormon Adrenal

Kelenjar Adrenal memproduksi suatu hormon yang dinamakan Ouobain. Dan kelenjar ini akan lebih banyak memproduksi hormon tersebut ketika seseorang mengonsumsi terlalu banyak garam.
Faktanya, hormon ouobain ini berfungsi untuk menghadirkan protein yang menyeimbangkan kadar garam dan kalsium dalam pembuluh darah. Namun, ketika konsumsi garam meningkat, produksi hormon ouobain rupanya mengganggu keseimbangan kalsium dan garam dalam pembuluh darah.
Untuk itu, kalsium dikirimkan ke pembuluh darah untuk menyeimbangkannya kembali. Kalsium dan garam yang banyak inilah yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan tekanan darah tinggi.

Garam, Hipertensi, dan Ginjal

Konsumsi garam berlebih membuat pembuluh darah pada ginjal menyempit dan menahan aliran darah. Untuk itulah, ginjal memproduksi hormon Renin dan Angiostenin agar pembuluh darah utama mengeluarkan tekanan darah yang besar sehingga pembuluh darah pada ginjal bisa mengalirkan darah seperti biasanya.
Tekanan darah yang besar dan kuat ini menyebabkan seseorang menderita hipertensi tipe sekunder, yakni hipertensi yang disebabkan oleh masalah di bagian tubuh lainnya, dalam hal ini ginjal. Konsumsi garam per hari yang dianjurkan adalah sebesar 1500-2000 mg atau setara dengan satu sendok teh.
Perlu diingat bahwa sebagian orang sensitif terhadap garam sehingga mengonsumsi garam sedikit saja akan menaikkan tekanan darah. Membatasi konsumsi garam sejak dini akan membebaskan Anda dari hipertensi, penyakit ginjal, dan tentu saja penyakit jantung koroner

Cara Pemberian Injeksi (IM, ID, SC, IV, IA, IP)

Macam pemberian injeksi :
  1. Intramuscular (im)
  2. Intradermal (id)
  3. Subcutaneus (sc)
  4. Intravenous (iv)
  5. Intra-arterial (ia)
  6. Intraperitoneal (ip)

Persiapan alat :
  • Kapas alkohol
  • Disposable syringe yang sesuai (1 cc, 3 cc, 5 cc, 10 cc)
  • Sarung tangan karet disposable
A. Injeksi Intramuscular :
  • Adalah memasukkan sejumlah zat/cairan ke dalam otot dengan jarum suntik.
  • Cairan yang digunakan biasanya dalam jumlah kecil, antara 0,5-10 cc.
  • Obat yang sering diinjeksikan cara im : metoclopramide, codein, suntikan KB, macam2 vaksin.
  • Lokasi untuk penyuntikan im :
    • Daerah glutea : penderita dipersilahkan berbaring
    • Daerah deltoid : penderita boleh berdiri atau duduk
    • Daerah paha : penderita boleh berbaring atau duduk.
  • Prosedur im :
    • Bersihkan kulit tempat menyuntik dengan kapas alkohol
    • Pegang daerah kulit dan otot yang akan disuntik kemudian tusukkan jarum suntik dalam posisi 90⁰ atau tegak lurus, tindakannya harus tepat dan cepat
    • Setelah jarum sepenuhnya masuk, lepaskan pegangan tangan anda
    • Tarik perlahan pendorong syringe dan lakukan aspirasi untuk memeriksa apakah jarum syringe yang ditusukkan masuk ke pembuluh darah atau tidak. Jika tampak darah, jarum segera dicabut dan daerah bekas tusukan ditekan dengan kapas alkohol. Lalu lakukan injeksi di lokasi lain dengan menggunakan jarum baru.
B. Injeksi Intra Dermal :
  • Adalah memasukkan sejumlah zat/cairan ke lapisan di antara kulit dengan jarum suntik.
  • Cairan yang disuntikkan biasanya dalam jumlah yang sangat kecil 0,1-0,5 cc.
  • Obat yang sering diberikan dengan cara injeksi intradermal adalah kostrikosteroid dan tes mantoux.
  • Prosedur :
    • Bersihkan daerah penyuntikkan dengan kapas alkohol
    • Regangkan daerah kulit yang akan disuntik, lalu tusukkan ujung jarum suntik dalam posisi 10⁰ , posisi lubang jarum mengarah ke permukaan atas.
    • Lalu posisi jarum disejajarkan kulit sampai jarum menembus lapisan antara stratum corneum. Panjang jarum yang masuk tidak perlu seluruhnya ditusukkan tapi disesuaikan dengan kebutuhan.
    • Jika sudah yakin bahwa jarum sudah berada di antara lapisan kulit, larutan dalam syringe boleh diinjeksikan.
    • Jika posisi injeksi sudah benar, maka permukaan kulit akan tampak menggembung, seperti tanda fluktuasi.
    • Setelah semua larutan diinjeksikan, jarum dicabut perlahan-lahan dan kulit daerah bekas tusukan dihapus dengan menggunakan kapas alkohol.
C. Injeksi Subkutan (sc) :
  • Adalah memasukkan sejumlah zat/cairan ke bawah kulit dengan jarum suntik.
  • Cairan yang disuntikkan biasanya dalam jumlah kecil.
  • Lokasi penyuntikan :
    • di paha bawah bagian depan
    • di perut, bagian bawah umbilicus
  • Prosedur :
    • Bersihkan kulit tempat akan dilakukan penyuntikan dengan kapas alkohol
    • Pegang daerah kulit yanga kan disuntik, kemudian tusukkan ujung jarum suntik dalam posisi miring 45⁰
    • Jika jarum sudah masuk semuanya, lepaskan pegangan tangan anda
    • Jika yakin bahwa jarum sudah masuk di ruang subcutaneus, larutan dalam syringe boleh diinjeksikan
    • Setelah larutan semuanya sudah diinjeksikan, jarum dicabut perlahan-lahan dan kulit daerah bekas tusukam ditekan denganmenggunakan kapas alkohol.
D. Injeksi Intra Vena  (iv) :
  • Adalah memasukkan sejumlah zat/cairan ke dalam sistem peredaran darah melalui vena dengan jarum suntik.
  • Efek zat akan sangat cepat menyebar ke seluruh bagian tubuh penderita, karena langsung masuk ke pembuluh darah.
  • Risiko injeksi iv :
    • Infeksi : terutama oleh Staphylococcus aureus dan Candida albicans
    • Phlebitis : iritasi vena bukan karena infeksi bakterial
    • Infiltrasi : zat yang disuntikkan masuk ke jaringan sekitar.
    • Embolism : gumpalan darah, massa padat atau udara menyumbat pembuluh darah, terutama pada pemberian central iv. Udara sebanyak 30 ml dapat mengancam sirkulasi darah. Jika sekaligus banyak, maka dapat merusak sirkulasi pulmonal dan mengancam jiwa. Udara yang sangat besar (3-8 ml/kgBB) dapat menghentikan jantung.
  • Injeksi IV ada 2, yaitu : sentral dan perifer. IV perifer dibagi menjadi 2 lagi, yaitu IV kontinu (infus) dan IV intermitten.
  • Lokasi penyuntikan : (penderita boleh duduk atau berbaring)
    • v. mediana cubiti
    • v. basilica
    • v. antebrachial medianus
    • v. cephalica
  • Prosedur penyuntikan :
    • Palpasi daerah lengan atau fossa cubiti untuk menetukan lokasi dan memilih vena.
    • Pasang manset tourniquet sekeliking lengan atas.
    • Bersihkan kulit tempat menyuntik dengan kapas alkohol.
    • Lokasi penyuntikan ditahan dengan ibu jari penyuntik, kemudian mulai tusukkan jarum suntik syringe secara hati-hati.
    • Tusukkan jarum syringe secara miring sambil menyususr vena yang akan ditusuk.
    • Tarik perlahan pendorong syringe dan lakukan aspirasi untuk memeriksa apakah jarum syringe yang kita tusukkan sudah benar masuk ke pembuluh vena atau belum. Jika tampak darah, berarti jarum sudah menembus vena. Jika masih belum tampak darah, susuri sampai berhasil.
    • Jika sudah tampak darah, lepaskan tourniquet lalu injeksikan cairan dalam syringe dengan cara menekan pendorong syringe secara perlahan.
    • Setelah cairan dalam syringe sudah habis, cabut jarum perlahan kemudian kulit bekas tusukan tekan dengan hati-hati dengan kapas alkohol, kemudian boleh ditutup dengan plester.
  • Pemberian IV continue :
    • Dimaksudkan untuk memberikan cairan/zat dalam jumlah cukup banyak dan dalam waktu yang cukup panjang, langsung ke dalam sistem peredaran darah melalui vena.
    • Prinsipnya sama dengan IV intermitten, tapi ada beberapa perbedaan :
      • pasien harus berbaring
      • jarum khusus untuk pemberian infus atau transfusi berupa abbocath.


About these ads

Kamis, 20 Maret 2014

10 Fakta Junk Food Yang Selama Ini Dirahasiakan


Sudah banyak orang mungkin yang mengetahui tentang Junk food yang tak memiliki nilai gizi dan malah akan membuat kita menjadi sangat tidak sehat. Kandungan kalori yang tinggi pun dapat membuat kita terkena Obesitas atau kolestrol.
Dan selama bertahun-tahun ini, tak sedikit produsen junk food yang menyembunyikan rahasia kotornya. Inilah beberapa kenyataan yang wajib Anda tahu soal junk food.

Fakta 1
Tahu gak kalau Saus sambal dan sayap ayam yang biasa kita santap di resto Fast Food itu mengandung silicon dioxide, atau yang biasa kita sebut Pasir. Itulah yang membuat rasa renyah dan crispy pada hidangan tersebut, Gila kan?

Fakta 2
Sebagian besar produsen daging kemasan mengolah daging dari ribuan sapi sekaligus. Resiko penularan penyakit tentunya cukup besar, oleh karena itu pabrik mengatasinya dengan memandikan sapi menggunakan gas amoniak. Dan tentu saja hal tersebut sangat tidak baik bagi kesehatan tubuh.

Fakta 3
Dulu lean beef atau daging sapi tanpa lemak dijadikan makanan untuk anjing. Tapi sekarang, lean beef kalengan juga dikonsumsi manusia. Nah, tambah gila lagi kan?

Fakta 4
Jika kamu makan makanan fast food berwarna orange kecoklatan yang rasanya agak pahit, warna tersebut bukan berasal dari buah-buahan atau tanaman, melainkan dari urine atau air kencing berang-berang yang menjadi pewarna alami. Wah…

Fakta 5
Carmine atau pewarna merah tua berasal dari organ dalam dactylopius coccus yang dihancurkan.

Fakta 6
Sebagian restoran membuat roti sandwich dengan menambahkan bahan kimia amonnium sulfate untuk membuat ragi bekerja lebih maksimal sehingga roti benar-benar mengembang. Dan bahan tersebut sangat berbahaya bagi tubuh jika di konsumsi terus menerus.

Fakta 7
Tahukah Anda bahwa sebagian besar roti menggunakan l-cysteine, amino acid yang berasal dari bulu bebek dan rambut manusia untuk mengempukkan roti??? Dan itulah faktanya.

Fakta 8
Sebagian besar makanan yang membutuhkan pelumas agar tetap moist (seperti mayonaise) mengandung propylene glycerol. Bahan tersebut dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan mata.

Fakta 9
Setelah mengetes bulu ayam potong, John Hopkins University menemukan banyak kandungan kimia yang berasal dari obat-obatan, kafein, serta makanan yang seharusnya tidak diberikan kepada ayam.
Dan, ya itulah ayam yang kita makan di resto Fast Food, masih ingin menyantapnya terus setelah tahu tentang hal ini?

Fakta 10
Sebagian besar restorant fast food menggunakan dimethylpolysiloxane sebagai salah satu bahan untuk memasak ayam. Dan bahan kimia tersebut biasanya digunakan juga untuk pembuatan sililon payudara.