Kamis, 20 Maret 2014

Navigasi Darat (part 5) - MENGENAL DAN MEMBACA PETA TOPOGRAFI SEBELUM KE LAPANGAN

MENGENAL DAN MEMBACA PETA TOPOGRAFI SEBELUM KE LAPANGAN

Membaca peta adalah penting bagi pecinta alam khususnya pendaki gunung sebelum ke lapangan. Dengan membaca peta kita akan dapat membayangkan medan yang akan kita hadapi.

1. Mengenal Puncak Suatu Gunung/Bukit

Puncak suatu gunung/bukit dipeta topogrfi dapat kita kenali dari:
a. Titik Triangulasi
b. Garis kontur yangmenutup dan paling dalam/paling tinggi.

2. Mengenal Punggungan dan Lembah

a. Punggungan suatu gunung digambarkan/terlihat di peta topografi sebagai rangkaian garis kontur yang membentuk huruf “U” yang ujungnya melengkung
b. Lembah digambarkan/dilihat dipeta topografi sebagai rangkaian yang berbentuk huruf “V” yang ujungnya tajam. Biasanya lembah dicirikan adanya sungai, tetapi ada juga yang tidak ada sungainya.
Ingat!!.. Dalam perjalanan usahakan kita berjalan dipunggungan

3. Mengenal Daerah Datar (Landai) dan Daerah Terjal (Curam)

a. Daerah datar/landai digambarkan/dilihat pada peta topografi dengan garis kontur yang relatif jarang.
b. Daerah terjal/curam digambarkan/dilihat pada peta topografi dengan garis kontur yang relatif rapat (berdekatan).

4. Mengetahui Ketinggian Suatu Tempat

Untuk mengetahui ketinggian suatu tempat, dapat dilihat dari triangulasi, atau dari harga kontur titik ketinggian yang terbaca. Tapi perlu diketahui bahwa tidak semua tempat dan garis kontur mempunyai harga ketinggian. Untuk itu kita perlu menghitung/mencari harga ketinggian tersebut dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Tentukan dulu interval konturnya (dapat dari 1/2000 x skala atau dari legenda peta)
b. Cari garis kontur yang tebal, tentukan harganya. Untuk harga garis kontur lainnya tinggal dilihat berapa tebal kontur yang kita lalui dan berapa kontur yang tidak bergaris tebal. Ingat!! Garis kontur yang tebal dapat kelipatan sepuluh atau kelipatan empat, atau tidak seragam. Jadi, sebelum menentukannya, hitung dulu kelipatan setiap garis tebal.
Perlu diketahui ada juga peta topografi yang tidak diketahui interval konturnya (misal peta yang kita fotocopy sebagian dan tidak lengkap), dan tidak mempunyai kontur(misal karena fotocopy) hasilnya tidak jelas. Oleh sebab itu kita harus menghitung ketinggian suatu tempat dengan cara sebagai berikut;
a. Cari dua titik yang ketinggian dan harganya tercantum dan jaraknya berdekatan.
b. Hitung selisih ketinggian antara kedua titik tersebut. Hitung berapa garis kontur yang terdapat antara kedua titik itu. Hati-hati dalam menghitung garis kontur, jangan sampai menghitung garis kontur yang sama harganya. Biasanya kedua titik tersebut terpisah lembah. Dengan menghitung selisih ketinggian dua titik dan jumlah garis kontur yang terdapat antara dua titik maka kita dapat menghitung interval konturnya, yang merupakan bilangan bulat.
c. Lihat garis kontur yang terdekat dengan salah satu titik ketinggian yang kita tentukan sebelumnya pada butir a. kemudian tentukan garis kontur tersebut apakah harganya lebih rendah dari titik tersebut (bila mengarah kepuncak) atau harganya lebih kecil (bila mengarah kebawah/yang lebih rendah). Tentukan harga kontur untuk menambah/mengurangi antara harga garis kontur yang diketahui dengan interval konturnya, begitu juga untuk harga kontur lainnya.
d. Cantumkan harga garis kontur untuk setiap garis kontur yang mempunyai kelipatan sepuluh, dan tebalkan garis kontur berharga 250, 500, 750, dst. Ingat!! Dalam menghitung garis kontur usahakan lebih dari satu kali untuk menghindari kesalahannya.

5. Mengenal Tanda Medan

Selain tanda-tanda keterangan yang terdapat pada legenda peta topografi kita harus dapat mengenal tanda-tanda lain seperti bentuk-bentuk atau bentang alam permukaan bumi yang mencolok di lapangan dan mudah dikenali di peta. Tanda/keterangan tersebut biasanya disebut tanda medan. Kegunaan kita mengenal tanda medan, jika peta topografi tersebut tidak lengkap (tidak ada legenda).
Beberapa tanda medan yang dapat kita mengetahui/dibaca dari peta topografi sebelum kita ke lapangan dan kemungkinan kita dapati langsung dilapangan/medan langsung/alam sebagai pembantu kita:
a. Puncak gunung atau bukit, punggungan gunung, lembah antara dua puncak dan bentuk lain yang mencolok.
b. Lembah yang curam, pertemuan anak sungai, kelokan anak sungai yang tajam, tebing-tebing di tepi sungai.
c. Kelokan jalan. Jembatan (perpotongan sungai dengan jalan), ujung desa, simpang jalan, hulu sungai, jalan setapak dan sebagainya
d. Didaerah pantai, muara sungai, tanjung yang menjorok kelaut, delta dsb.

6. Mengetahui/menafsirkan jarak

Untuk mengetahui jarak yang akan kita tempuh, kita dapat mengetahuinya dengan menghitung jarak di peta lalu dengan mengingat skala, kita dapatkan jarak horizontal. Dari jarak horizontal dapat dihitung jarak sebenarnya.
Ingat!!.. Bila kita telah terbiasa membaca peta topografi dengan garis kontur, kita langsung dapat mengetahui perbandingan jarak horizontal dan jarak sebenarnya dari keadaan/bentuk garis konturnya.

Navigasi Darat (part 4) - ARAH, AZIMUTH DAN BACK AZIMUTH

ARAH, AZIMUTH DAN BACK AZIMUTH

1. Utara

Arah Utara merupakan hal yang sangat penting untuk diketahui dalam Navigasi Darat, karena arah Utara awal dari perhitungan sudut (0o).
Ada tiga buah arah Utara, yaitu:
a. Utara sebenarnya (US)/Geographical North
Yaitu Utara yang mengarah pada kutub utara bumi
b. Utara magnetis (UM)/Magnetic North
Biasanya disebut Utara kompas, Yaitu yang ditunjukan oleh jarum kompas, posisinya tidak tepat dikutub utara, tetapi bergeser.
c. Utara peta (UP)/Grid North
Yaitu Utara dari peta/peta topografi.
Menentukan Utara peta:
Ø Dari legenda peta, biasanya pada tepi peta
Ø Bila tidak ada, dilihat dari tulisan yang tegak nama-nama gunung, kota, desa, dan lain-lain. Utara peta adalah bagian atas tulisan. Ada beberapa tulisan ditulis miring, seperti nama-nama sungai. Tulisan tersebut tidak dapat menentukan arah Utara peta, oleh karena itu usahakan mencari tulisan yang tegak lurus.

2. Azimuth

Azimuth ialah besar sudut antara Utara (00) dengan titik/sasaran yang kita tuju. Perhitungan searah jarum jam.
Ada tiga macam Azimuth:
a. Azimuh sebenarnya
Besarnya sudut yang dibentuk antara Utara sebenarnya dengan titik sasaran.
b. Azimuh magnetis
Besarnya sudut yang dibentuk antara Utara magnetis dengan titik sasaran.
c. Azimuh peta
Besarnya sudut yang dibentuk antara Utara peta dengan titik sasaran.
290o
3. Back Azimuth
Back Azimuth ialah besar sudut kebelakang/kebalikan dari azimuth.
Cara perhitungan:
a. Bila Azimuth > 1800, maka Back Azimuth dikurangi 1800
b. Bila Azimuth < 1800, maka Back Azimuth ditambah 1800
c. Bila Azimuth = 1800, maka Back Azimuth adalah 00 atau 1800
Kegunaan Back Azimuth:
a. Dalam orientasi medan, untuk mengetahui posisi kita dipeta (resection);
b. Untuk mengecek kebenaran sudut yang kita pakai/pergunakan dalam suatu lintasan yang kita jalankan
Misalnya: kita berjalan dari suatu titik/tempat ke titik yang lain dengan sudut kompas yang tetap pada lintasan yang berupa garis lurus (potong kompas). Kita berlajan menuju suatu titik yang kita ketahui baik dari peta (setelah kita hitung) ataupun setelah titik itu kita bidik dengan kompas. Setelah kita ketahui sudutnya, kita berjalan sesuai besar sudut tersebut. Jika kta telah sampai di titik/sasaran tersebut, untuk mengecek kebenarannya, kita bidik titik awal kita. Besar bidikan itu adalah Back Azimuthnya. Bila sudut tersebut tidak tepat, kita dapat menggeser kekiri atau kekanan untuk mendapatkan ketepatan sudut tersebut.
Catatan:
Ø Bila medan tertutup, maka bidikan kita adalah sebatas mata kita memandang (misalnya pohon,bukuit, desa dsb)
Ø Perhatikan titik awal dan titik sasaran kita

Navigasi Darat (part 3) - KOMPAS

KOMPAS

Kompas merupakan alat penunjuk arah mata angina yang bekerja berdasarkan medan magnet bumi yang berkedudukan di sebelah utara Kanada. Karena sifat kemagnetannya, jarum kompas akan selalu menunjuk arah utara, dimana jarum magnet kompas menunjuk arah kutub magnet. Tetapi perlu diingat arah yang ditunjuk jarum kompas adalah utara magnetis bumi bukan arah utara bumi sebenarnya.Kompas mempunyai delapan titik/arak pokok: Utara, Selatan, Timur, Barat, Barat daya, Barat laut, Tenggara, dan Timur laut. Perhitungan sudut kompas berdasarkan jarum jam.


1. Kompas dan Macam – Macamnya

Kompas untuk keperluan navigasi darat dapat dibedakan menurut kegunaan dan cara melihat angkanya dalam lingkaran sudutnya. Berdasarkan kegunaannya, ada kompas orientasi, yaitu kompas yang kegunaannya khusus untuk orientasi peta. Tetapi, masih dapat juga digunakan untuk membidik walaupun kurang tepat (kecuali model – model tertentu). Macam kompas lainnya adalah kompas bidik, yaitu kompas yang digunakan untuk menemukan azimuth dengan cara dibidik.
Disamping berdasarkan kegunaannya, kompas dibedakan berdasarkan cara melihat lingkaran derajatnya, seperti kompas prisma, kompas lensa dan kompas cermin.

2. Kompas dan Bagian – Bagiannya

Secara umum bagian – bagian komps terdiri dari :
Badan kompas
Bagian penutup kompas
Jarum magnit
Angka – angka pada lingkaran derajat
Celah pembidik/toreh bidik (untuk kompas bidik)
Garis bidik (untuk kompas bidik)
Bagian untuk melihat angka – nagka derajat (untuk kompas bidik)

3. Cara - Cara Menggunakan Kompas

Pada dasarnya cara penggunaan kompas lebih ditekankan pada urutan – urutan yang benar untuk menggunakan kompas, yaitu antara lain :

a. Buka bagian penutup (untuk kompas yang ada bagian penutupnya).
b. Jauhkan kompas dari gannguan local dan benda – benda yang mengandung medan magnet.
c. Pegang/letakan kompas dengan datar.
d. Bidik sasaran yang dituju dimana celah bidik, garis bidk dan sasaran satu garis lurus.
e. Baca/lihat besarnya sudut dari bagian untuk melihat angka – angka derajat (untuk kompas bidik).

4. Berjalan Menurut Kompas

kadang – kadang di lapangan kita dituntut untuk melakukan pergerakan menurut arah kompas yang telah kita tentukan. Pada prinsipnya dalam melakukan pergerakan sasaran bidik yang telah ditentukan harus kontars dengan keadaan sekitarnya dan sejauh mata memandang, tetapi di lapangan kita sulit untuk menentukan sasaran bidikyang kontras dengan keadaan sekitarnya, untuk mengatasinya dengan bantuan teman kita sebagi sasaran (man to man) dengan langkah – langkah sebagi berikut :

a. Ikuti urutan penggunaan kompas dengan benar.
b. Tempatkan teman kita sesuai arah yang ditentukan sejau mata memandang.
c. Untuk menghidari kesalahan lakukan pembidikan terbalik, yaitu teman anda membidik kearah anda (back azimuth) dan hitung selisihnya (perhitungan diberikan pada pembahasan selanjutnya)
d. Ikuti langkah tersebut sampai sasaran yang dituju.

5. Mengatasi Rintangan Waktu Berjalan Menurut Arah Kompas

Apabila dalam melakukan perjalanan menurut arah sudut kompas mengalami rintangan misalnya terhalang bangunan atau pohon yang besar dimana sasaran bidik tidak terlihat, kita dapat mengatasi dengan jalan :

a. Arah asal dikurangi atau ditambah 90O (ke kanan ditambah, ke kiri di kurangi).
b. Ukur jarak dari kita mendapat rintangan sampai akhir rintangan.
c. Berjalan sampai rintangan terlewati sesuai dengan arah azimuth awal.
d. Bergerak sejauh jarak pada langkah (2), kalau langkah (1) ditambah maka arahnya dikurangi 900
e. Lanjutkan perjalanan sesuai azimuth awal/asal

Navigasi Darat (part 2) - PENGETAHUAN PETA

A. PETA
Secara umum, Peta merupakan suatu representasi di atas bidang datar tentang seluruh atau sebagian permukaan bumi yang dilihat dari atas dan diperkecil dengan perbandingan tertentu serta dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya baik secara visual maupun secara matematis. Peta sendiri berfungsi sebagai alat peraga untuki memberi informasi yang kemudian berkembang sesuai kebutuhan dan penggunaannya.
1. Macam – Macam Peta
Sebenarnya ada banyak macam – macam peta yang dapat dibedakan menurut berbagai macam hal yang terdapat dalam peta dan kebutuhan atas peta tersebut, seperti ; informasi atau isi yang disajikan dalam peta, skala peta, tujuan dan penggunaan peta, luas cakupan daerah, proyeksi yang digunakan, gambar/simbol atau tanda dalam peta dan proses terjadinya. Karena tulisan ini bersifat pengenalan maka, hal – hal di atas tidak akan dibahas lebih lanjut. Tetapi, secara umum peta dapat dibedakan menjadi :
a. Peta teknis
Peta yang dipergunakan untuk keperluan teknis, misalnya untuk perencanaan jalan, jembatan, irigasi, dsb. Peta ini menggunakan skala besar (1 : 10.000).
a. Peta topografi
Peta yang berisikan tentang perairan, vegetasi, relief muka bumi dan hasil budaya manusia. Peta topografi sering disebut peta umum, karena berisi tentang informasi secara keseluruhan yang lebih lengkap. Peta ini menggunakan skala sedang (1: 25.000; 1: 50.000; 1: 100.0000) kecuali telah diperbesar atau diperkecil.
b. Peta Ikhtisar/Peta Geografi/Peta Wilayah
Peta ini menggunakan skala kecil (1:250.000)
Untuk kepentingan kegiatan di alam bebas atau hutan dan gunung atau kegiatan navigasi darat lainnya, penggunaan peta ditekankan pada peta topografi.
2. Informasi Tepi Peta
Bagi pengguna yang belum terbiasa menggunakan peta, sebelum menggunakan peta atau melakukan interpretasi peta, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu informasi pada yang ada pada bagian tepi peta atau disebut informasi tepi peta. Pemahaman terhadap informanasi tersebut merupakan persyaratan utama dalam membaca dan menggunakan peta, sehingga fungsi peta tersebut menjadi maksimal dan optimal. Informasi peta tersebut terbagi menjadi informasi umum dan informasi khusus, tetapi untuk pengenalan cukup mengetahui beberapa informasi tepi peta tersebut, yaitu :
a. Judul Peta
Adalah identitas daerah yang tergambar pada peta, umumnya berupa nama daerah atau identitas alam yang paling menonjol atau terkenal, misalnya Peta Gunung Salak, Peta Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Peta Kabupaten Bogor, dsb. Judul peta terletak tepat ditengah bagian atas peta.
b. Keterangan Pembuatan
Adalah informasi mengenai pembuatan peta tersebut, yang diantaranya meliputi tahun pembuatan, nama instansi pembuat, sistem proyeksi yang digunakan dan keperluan pembuatan.
Di Indonesia, ada dua instansi resmi yang menerbitkan peta topografi untuk masyarakat umum, yaitu ;
Ø Direktorat Geologi (Jl. Dipenogoro No. 57, Bandung, Jawa Barat)
Direktorat Geologi mengeluarkan beberapa seri peta topografi, antara lain :
· Peta buatan Dinas Topografi Belanda (Topografische Diest, Batavia and Topografische Inlicthing, Batavia), hasil pemetaan pada tahun 1920-an.
· Peta buatan US Amry Map Service, Far East (dikenal sebagai seri AMS), terbitan tahun 1960-an.
Ø BAKOSURTANAL (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional), Cibinong, Jawa Barat. Menerbitkan peta topografi seri tersendiri yang dibuat tahun 1970-an dan merupakan peta berwarna.
c. Nomor Derajat
Menjelaskan nomor-nomor peta lain yang terdapat di sekitar peta yang digunakan. Hal ini akan mempermudah kita jika akan menggabungkan beberapa judul peta untuk tujuan tertentu. Nomor derajat terdapat di sisi kiri bagian bawah peta, dekat dengan keterangan pembuatan.
d. Nomor Peta
Yaitu nomor yang terdapat pada sisi kanan atas peta. Nomor ini merupakan nomor registrasi dari peta tersebut. Nomor yang ditulis dengan angka Arab menyatakan nomor kolom, sedang yang ditulis dengan angka Romawi menyatakan nomor baris.
e. Sistem Koordinat
Adalah cara untuk menyatakan kedudukan suatu titik pada bidang datar, atau terhadap dua garis bilangan (ordinat dan aksis). Skala bilangan untuk menyatakan koordinat titik dicantumkan pada garis-garis tepi peta.
Sistem koordinat ada dua, yaitu sistem koordinat resmi dan tidak resmi.
Ø sistem koordinat resmi
Sistem koordinat resmi yang biasa dipakai adalah :
· Geographical Coordinate
Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (BB dab BT) yang tegak lurus khatulistiwa (vertikal) dan garis lintang (LU dan LS) yang sejajar khatulistiwa (horizontal). Koordinat geografis dinyatakan dalam derajat, menit dan detik.
· Grid Coordinate (UTM)
Kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak (meter) sebelah utara/selatan atau sebelah barat/timur dari suatu sumbu acuan.
Biasanya sistem koordinat resmi digunakan pada peta keluaran AMS, Bakosurtanal.
Ø sistem koordinat tidak resmi
Selain sistem koordinat resmi di atas ada juga sistem koordinat tidak resmi yang biasa disebut sistem koordinat lokal. Alasan sistem koordinat ini dibuat adalah selain untuk membaca koordinat resmi agak sulit, juga peta yang biasa kita gunakan (peta buatan Dinas Topografi Belanda) biasanya tidak ada koordinatnya. Sistem ini pembuatannya tergantung dari keperluan, dan jarak antara garis-garis yang berpotongan (vertikal dan horizontal) bermacam-macam, biasanya berjarak 1 cm.
f. Skala
Skala adalah perbandingan antara jarak dua titik pada peta terhadap jarak dua lokasi yang diwakili oleh titik-titik tersebut di lapangan. Misalnya, skala 1:25.000 berarti jarak 1 cm pada peta sama dengan 25.000 cm (250 m) jarak horizontal di alam (ingat jarak horizontal bukan merupakan jarak sebenarnya di alam, terutama pada daerah-daerah yang curam/terjal). Skala merupakan unsur pertama yang harus diperhatikan dalam membaca peta. Skala peta dinyatakan tanpa harga satuan.
Ø Skala peta dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu :
· skala besar/detail (1:10.000)
· skala sedang (1:25.000 – 1:100.000)
· skala kecil/ikhtisar (1:250.000)
Ø Skala peta dapat dapat dinyatakan dalam :
· angka/fraksi/pecahan
· mis : 1:50.000, 1:25.000
· verbal/perkataan
· mis : 1 cm mewakili 250 m, 1 cm mewakili 50.000 cm
· garis/grafis/gambar
Skala garis atau skala gambar dicantumkan dengan menggambarkan garis dengan jarak-jarak tertentu pada peta. Pemakaian skala garis pada peta yang telah diperbesar atau diperkecil relatif lebih menguntungkan, karena perubahan tersebut tidak mempengaruhi pembacaan skala yang tercantum.
g. Interval atau selang kontur
Menunjukan perbedaan tinggi antara dua kontur berurutan. Kadang digambarkan dengan garis-garis tertentu yang lebih tebal. Biasanya nilai interval setiap kontur tercantum di bawah peta, yang besarnya adalah setengah dari bilangan ribuan skala peta. Misalnya, jika sebuah peta memiliki skala 1:50.000, maka interval konturnya adalah 1/2000 x 50.000 = 25, yang umumnya dinyatakan dalam meter.
Rumus di atas tidak berlaku jika pada peta ada keterangan yang menyatakan besar harga interval konturnya (biasanya peta yang telah diperbesar atau diperkecil). Misalnya pada beberapa peta topografi buatan Belanda yang kemudian diterbitkan oleh Direktorat Geologi Bandung, aslinya berskala 1:50.000 dengan interval konturnya 25 m, tetapi kemudian diperbesar dua kali menjadi peta berskala 1:25.000 namun interval konturnya tetap 25 m. Dalam kegiatan gunung dan hutan, seringkali kita memperbesar atau memperkecil peta dengan mem-foto copy-nya. Untuk itu kita harus selalu mencantumkan interval kontur pada peta hasil copy-an itu.
h. Legenda Peta/Keterangan Peta
Pada setiap lembar peta topografi yang lengkap, biasanya pada bagian bawah terdapat legenda peta.
Legenda tersebut meliputi:
Ø Indeks peta, seperti nomor peta
Ø Besar deklinasi, arah utara peta, dsb
Ø Keterangan-keterangan lain seperti garis kontur, jalan sungai, desa, batas daerah, titik triangulasi, titik ketinggian, dsb.
Perlu diketahui ada juga Peta Topografi (biasanya keluaran Dinas Topografi Belanda) yang sering kita gunakan tidak ada legendanya. Beberapa legenda/keterangan peta yang umum kita temui, antara lain :
Ø Titik Triangulasi = P 158
2260
P = Pengukuran Primer, ada juga yang sekunder (S), tersier (T)
dan Quarter (Q)
158 = Nomor registrasi titik tersebut.
2260 = Ketingggian titik tersebut dari permukaan laut
Jalan raya, jalan desa, stapak dsb.
3. Kontur dan Ketinggian pada Peta
a. Garis Kontur/Garis Ketinggian
Garis kontur adalah gari khayal yang berbelok-belok dan merupakan kurva tertutup, menghubungkan titik-titik/tempat yang mempunyai ketinggian yang sama.
Ketinggian tersebut diukur dari ketinggian dari permukaan air laut relatif. Garis kontur dapat tidak berupa kurva tertutup karena keterbatasan besarnya peta.
Sifat-sifat garis kontur:
Ø Satu garis kontur mewakili satu ketinggian
Ø Garis kontur berharga lebih rendah mengelilingi kontur berharga lebih tinggi.
Ø Garis kontur tidak saling berpotongan dan tidak bercabang.
Ø Interval/selang kontur adalah 1/2000 dikalikan skala peta, dinyatakan dalam meter. Rumus diatas tidak berlaku jika pada legenda/ keterangan peta ada keterangan peta yang menyatakan besarnya harga interval kontur (biasanya peta yang diperbesar atau diperkecil).
Ø Garis kontur setiap kelipatan 10 biasanya ditandai dengan garis yang tebal, kecuali untuk peta AMS, garis tebal setiap kelipatan empat. (indeks kontur)
Ø Rangkaian garis kontur yang rapat menandakan/menggambarkan permukaan bumi yang curam, sebaliknya yang renggang menandakan permukaan bumi yang landai.
Ø Rangkaian garis kontur yang berbentuk “U”, pada ujung yang melengkung menandakan/menggambarkan suatu punggungan gunung
Ø Rangkaian garis kontur yang berbentuk “V”, pada ujung yang tajam menandakan/menggambarkan suatu lembah
Ø Rangkaian garis kontur yang makin berharga tinggi makin rapat menandakan/menggambarkan permukaan bumi yang cekung.
Ø Rangkaian garis kontur yang makin berharga tinggi makin renggang menandakan/menggambarkan permukaan bumi yang cembung.
Ø Rangkaian garis kontur yang melingkar/menutup salah satu batas peta menunjukan suatu bukit/gunung.
Ø Garis kontur yang bergerigi menunjukan suatu depresi (daerah rendah), gerigi menunjukan depresi tersebut.
Ø Garis kontur yang terputus-putus adalah garis kontur bantuan yang mempunyai ketinggian yang sama dengan garis kontur di dekatnya.
b. Ketinggian
Ø Ketinggian sebenarnya
Ketinggian yang diukur dari permukaan air laut relatif/rata-rata
Misalnya: ketinggian Gunung Gede 2958 mdpl
Ø Ketinggian nisbi
Ketinggian yang diukur dari dasar benda yang diukur
Misalnya: ketinggian gedung Blok B DKI 100 m

Navigasi Darat (part 1) - DEFINISI DAN PERALATAN

DEFINISI
Dalam kegiatan di alam bebas, penguasaan dan pangetahuan tentang ilmu navigasi memegang peranan penting untuk menjamin agar para penggiat kegiatan alam bebas tidak tersesat pada saat melakukan kegiatannya. Secara umum pengetahuan navigasi ini berkaitan dengan ilmu iklim dan medan, penaksiran, pengetahuan peta dan kompas. Sebelum memahami navigasi lebih lanjut sebaiknya pengertian navigasi harus diketahu dahulu.
Navigasi adalah suatu teknik untuk menentukan kedudukan dan arah pada lintasan perjalanan. Istilah Navigasi pada umum digunakan untuk kegiatan – kegiatan pelayaran dan penerbangan, tetapi pada saat sekarang ini ilmu navigasi juga digunakan untuk kegiatan petualangan di alam bebas, terutama di hutan atau pegunungan. Untuk menyebutnya biasanya ditambah kata darat menjadi navigasi darat. Pengertian navigasi darat itu sendiri adalah ilmu yang mempelajari cara menentukan suatu kedudukan/tempat dan memberikan bayangan medan (keadaan permukaan dan bentang alam dari bumi).
Dengan mempelajari navigasi darat seseorang dapat merencanakan suatu perjalanan dengan secermat mungkin dan mengetahui seperti apa medan yang akan dihadapi.
I.  PERALATAN NAVIGASI DARAT
Dalam kegiatan navigasi darat ada beberapa peralatan yang dibutuhkan, peralatan tersebut sangat menunjang keberhasilan dalam kegiatan navigasi. alat utama dalam kegiatan navigasi adalah peta dan kompas. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi peralatan navigasi darat pada saat sekarang ini semakin berkembang dan banyak memberikan kemudahan dalam kegiatan navigasi darat, seperti ; altimeter dan GPS (global positioning system). Peralatan lain yang dibutuhkan adalah busur derajat atau protactor.

Selasa, 18 Maret 2014

Apa Itu Acute Mountain Sickness? Penyebab, Gejala dan Penanganannya

Acute mountain sickness adalah penyakit yang dapat mempengaruhi pendaki gunung, pejalan kaki, pemain ski, atau wisatawan di dataran tinggi, biasanya di atas 8.000 kaki (2.400 meter).

Penyebab

Acute mountain sickness disebabkan oleh tekanan udara berkurang dan kadar oksigen lebih rendah di ketinggian.
Semakin cepat Anda naik ke dataran tinggi, semakin besar kemungkinan Anda akan mendapatkan acute mountain sickness.
Anda berada pada risiko tinggi untuk penyakit gunung akut jika:
• Anda tinggal di atau dekat permukaan laut dan perjalanan ke dataran tinggi.
• Anda telah memiliki penyakit sebelum.

Gejala

Gejala juga akan tergantung pada kecepatan mendaki Anda dan seberapa keras Anda mendorong (mengerahkan) sendiri. Gejalanya mulai dari ringan sampai mengancam nyawa. Mereka dapat mempengaruhi sistem saraf, paru-paru, otot, dan hati. Dalam kebanyakan kasus, gejalanya ringan.

Gejala ringan sampai sedang acute mountain sickness mungkin termasuk:
• Kesulitan tidur
• Pusing atau pening
• Kelelahan
• Sakit kepala
• Kehilangan nafsu makan
• Mual atau muntah
• Nadi cepat (denyut jantung)
• Sesak napas dengan pengerahan tenaga

Gejala yang mungkin terjadi dengan acute mountain sickness yang lebih parah meliputi:
• Warna biru pada kulit (sianosis)
• Dada sesak atau kemacetan
• Kebingungan
• Batuk
• Batuk darah
• Kesadaran menurun atau penarikan dari interaksi sosial
• Abu-abu atau kulit pucat
• Tidak bisa berjalan dalam garis lurus, atau tidak bisa berjalan sama sekali
• Sesak napas pada saat istirahat

Ujian dan Tes

Dokter atau perawat akan memeriksa Anda dan mendengarkan dada Anda dengan stetoskop. Hal ini dapat mengungkapkan suara disebut crackles (rales) di paru-paru. Rales mungkin merupakan tanda cairan di paru-paru.
Tes yang dapat dilakukan antara lain:
• Tes darah
• CT scan otak
• Chest x-ray
• Elektrokardiogram (EKG)

Pengobatan

Diagnosis dini sangat penting. Acute mountain sickness lebih mudah untuk mengobati pada tahap awal.
Pengobatan utama untuk semua bentuk penyakit gunung adalah untuk turun (turunnya) ke ketinggian yang lebih rendah secepat dan seaman mungkin.
Anda tidak harus terus mendaki jika Anda mengembangkan gejala.
Ekstra oksigen harus diberikan, jika tersedia.
Orang dengan penyakit gunung yang parah mungkin perlu dirawat di rumah sakit.
Asetazolamide (Diamox) dapat diberikan untuk membantu Anda bernafas lebih baik. Hal ini dapat membantu mengurangi gejala-gejala ringan. Obat ini bisa membuat Anda buang air kecil lebih sering. Pastikan Anda minum banyak cairan dan menghindari alkohol saat mengambil obat ini. Obat ini bekerja paling baik bila diambil sebelum mencapai ketinggian tinggi.
Jika Anda memiliki cairan di paru-paru (edema paru), pengobatan dapat mencakup:
• Oksigen
• Sebuah obat tekanan darah tinggi yang disebut nifedipine
• Inhaler agonis beta untuk membuka saluran udara
• Pernapasan mesin pada kasus yang berat
• Obat untuk meningkatkan aliran darah ke paru-paru yang disebut phosphodiesterase inhibitor (seperti sildenafil)

Dexamethasone (Decadron) dapat membantu mengurangi pembengkakan di otak (cerebral edema).
Portabel ruang hiperbarik memungkinkan pejalan kaki untuk mensimulasikan kondisi di dataran rendah tanpa benar-benar bergerak dari lokasi mereka di gunung. Alat ini sangat membantu jika cuaca buruk atau faktor lain membuat menuruni gunung mustahil.

Outlook (Prognosis)
Kebanyakan kasus yang ringan. Gejala meningkat cepat ketika Anda naik turun gunung ke dataran rendah.
Kasus yang parah dapat menyebabkan kematian karena masalah paru-paru atau pembengkakan otak, yang disebut edema serebral.

Di lokasi terpencil, evakuasi darurat mungkin tidak dapat dilakukan, atau pengobatan mungkin tertunda. Hal ini dapat memiliki pengaruh negatif pada hasil Anda.

Kemungkinan Komplikasi
• Koma
• Cairan di paru-paru (edema paru)
• Pembengkakan otak (cerebral edema), yang dapat menyebabkan kejang, perubahan mental, atau kerusakan permanen pada sistem saraf

Kapan Hubungi Profesional Medis

Hubungi penyedia pelayanan kesehatan, jika Anda memiliki gejala atau memiliki penyakit gunung akut, bahkan jika Anda merasa lebih baik ketika Anda kembali ke ketinggian yang lebih rendah.
Hubungi nomor darurat lokal, jika Anda atau pendaki lain memiliki salah satu dari gejala berikut:
• Masalah pernapasan yang parah
• Perubahan tingkat kewaspadaan
• Batuk darah

Turun gunung segera dan seaman mungkin.

Pencegahan
Kunci mencegah acute mountain sickness meliputi:
• Mendaki gunung secara bertahap
• Berhenti untuk satu atau dua hari istirahat untuk setiap 2.000 kaki (600 meter) di atas 8.000 kaki (2.400 meter)
• Tidur di ketinggian yang lebih rendah bila memungkinkan
• Pelajari bagaimana mengenali gejala awal penyakit gunung

Jika Anda bepergian di atas 9.840 kaki (3.000 meter), Anda harus membawa oksigen yang cukup selama beberapa hari.
Jika Anda berencana untuk cepat naik ke ketinggian tinggi, tanyakan kepada dokter Anda tentang obat yang disebut acetazolamide (Diamox). Obat ini membantu tubuh Anda terbiasa dengan ketinggian yang lebih tinggi lebih cepat, dan mengurangi gejala minor. Ini harus diambil sehari sebelum Anda naik, dan kemudian untuk 1 sampai 2 hari ke depan.
Jika Anda berada pada risiko untuk jumlah sel darah merah yang rendah (anemia), tanyakan kepada dokter, jika suplemen zat besi yang tepat untuk Anda. Anemia menurunkan jumlah oksigen dalam darah Anda. Hal ini membuat Anda lebih mungkin untuk memiliki penyakit gunung.
Sementara mendaki:
• Minum emogbanyak cairan
• Hindari alkohol
• Makan makanan biasa, tinggi karbohidrat

Anda harus menghindari tempat yang tinggi jika Anda memiliki penyakit jantung atau paru-paru.
Nama Alternatif
Ketinggian tinggi edema serebral, Altitude anoksia, Altitude sickness, Penyakit Gunung/ Penyakit ketinggian, Ketinggian tinggi edema paru.
Referensi
Hackett PH, Roach RC. Obat tinggi ketinggian. In: Auerbach PS, ed Wilderness Medicine.. Ed 5. Philadelphia, Pa: Mosby Elsevier; 2007: chap 1.
Schoene RB, Swenson ER. High Altitude. In: Mason RJ, Murray JF, Broaddus VC, Nadel JA, eds Textbook of Respiratory Medicine.. Ed-4. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier; 2005: chap 65.
Wright A, Brearey S, Imray C. Tinggi berharap di dataran tinggi: farmakoterapi untuk acute mountain sickness dan ketinggian tinggi cerebral edema paru dan Ahli Opin Pharmacother.. 2008; 9 (1) :119-127.
Yaron, M, Honigman, B. Tinggi Altitude Medicine. In: Marx JA, Hockberger RS, Walls RM, et al, eds Rosen Emergency Medicine:.. Konsep dan Praktek Klinis. Ed-7. Philadelphia, Pa: Mosby Elsevier; 2009: chap 42.

Mengatasi Cadel

Cadel atau cedal atau pelo merupakan ketidakmampuan seseorang untuk mengucapkan suatu huruf, sehingga akan mengucapkan suatu huruf menjadi huruf lainnya (yang paling umum adalah mengucapkan ‘R’ menjadi huruf ‘L’).

Fenomena yang berhubungan dengan ini disebut juga Rhotacism.Ketidakmampuan ini umumnya dialami pada usia anak-anak. Namun adapula orang yang cadel hingga usia dewasa.

Sejak dulu banyak orang beranggapan bahwa cadel disebabkan karena lidah yang pendek. Sebenarnya, tidak ada istilah lidah tebal dan pendek. Ini karena panjang lidah untuk setiap orang tidaklah ada perbedaan yang drastis.

Sebenarnya bukan disebabkan oleh lidah yang pendek, tetapi adanya perbedaan pada bagian yang dinamai frenulum linguae, yang menyebabkan gangguan sulit melafalkan salah satu huruf, atau lebih dikenal dengan istilah cadel.

Frenulum linguae dapat dilihat ketika Anda menggerakkan lidah ke atas. Terdapat seperti jaringan yang menghubungkan antara dasar mulut dan lidah; itulah frenulum linguae.Perbedaan panjang dan pendek frenulum linguae inilah yang menyebabkan lidah sulit bergetar, sehingga pada akhirnya menyebabkan kesulitan pelafalan salah satu jenis huruf.

Solusi untuk hal ini adalah dengan speech therapy (terapi bicara) oleh ahlinya asalkan memang betul tidak ada kelainan atau gangguan kesehatan lain yang dapat pula menyebabkan keluhan ini. Latihan ini mencakup gerakan napas atau pelafalan huruf tertentu yang sulit bila dilakukan tanpa bantuan pakar atau ahlinya karena melibatkan koordinasi lidah dan bagian lain di rongga mulut.

Perhatikan:

Bila melihat batita yang belum fasih mengucapkan kata-kata, kita sebagai orang dewasa sering tergoda mengikut cara bicaranya yang cadel. Maksud hati ingin lebih akrab dengan anak, penggunaan bahasa cadel yang keseringan malah bisa bikin anak cadel hingga dewasa.

Beberapa anak kecil seperti memiliki bahasa ‘planet’ yang kadang sulit dimengerti oleh orang lain. Salah satunya adalah anak berbicara cadel yang terdengar lucu sehingga banyak orang dewasa yang justru mengikuti gaya bahasa si anak.

Namun, jika tidak diberi tahu bahwa si anak salah dalam mengucapkan kata, bisa-bisa kebiasaan cadel tersebut terbawa hingga si anak dewasa yang bisa membuat si anak malu karena diejek oleh teman-temannya.

Orangtua sebaiknya tidak membiasakan anak salah dalam mengucapkan suatu kata, beritahu anak bagaimana cara mengucapkan yang benar. Jika anak mengulanginya terus jangan dimarahi, tapi beritahu secara baik dimana letak kesalahan si anak.

Jika orangtua tidak ingin memiliki anak yang cadel, biasakan untuk mengucapkan semua kata dengan benar agar si anak memiliki contoh yang baik. Mengikuti anak berbicara cadel bukanlah suatu cara untuk mendekatkan diri yang benar dengan si anak.