singgel pertama dari maissy yang terkenal juga dengan acara tv-nya cilukba di sctv sekitar tahun 90'an
Alam Indonesia begitu mempesona... Jangan ambil apapun selain gambar, Jangan bunuh apapun selain waktu, Dan Jangan tinggalkan apapun selain jejak. Mari lestarikan alam Indonesia... From Indonesia with love...
Kamis, 24 Mei 2012
Maissy - Melati Putih ( 1st singgel )
singgel pertama dari maissy yang terkenal juga dengan acara tv-nya cilukba di sctv sekitar tahun 90'an
Rabu, 23 Mei 2012
ironisnya sebuah sepur klutuk
Sinten numpak sepur
bayare setali
mung iki sepur dhur
tekan pasar legi
ojo do suk sukan
ngajeng tasih longgar
cedak nggon supiran
janji gelem mbayar
monggo rodo geser
anak kulo nangis
mergo kroso ngelih
mengjo ngejak mulih
e . . . e . . . tapak jaran tatu miring
miring neng betawi
ono ledhek mbuka topi
topi gone dhuwur
kreto api jare sepur
sepur mubeng minger
--- arasement ulang gamelist gamler ---
sebuah lagu dolanan anak atau lagu mainan anak yang keberadaannya sudah sangat jarang ditemui. apalagi dengan kondisi sekarang dengan maraknya industri musik yang semakin menyisikan lagu-lagu anak-anak. mungkin keprihatinan ini terjadi tidak hanya saya seorang namun banyak pemerhati anak yang mulai nanar dengan realita sekarang, bagiaman tidak ketika kita bertanya kepada anak-anak usia 7 sampai dengan 12 tahun mereka bahkan tak tahu akan lagu " sepur klutuk " ataupun lagu " cublak-cublak suweng ". sungguh ironis dibanyak negara lagu-lagu budaya kita dilestarikan namun di negara sendiri seakan lagu-lagu tersebut telah mati.
Minggu, 29 Januari 2012
ia kembali
kembali ia kepangkuanku
kembali ku merasakan dekap hangatnya
kembali sudah harapanku
walau asa itu tak akan bertemu kembali
namun ku yakinkah bahwa aku masih sayang
kini aku harus bisa berbagi
berbagi dengan keadaan
dimana aku harus sadar bahwa ia telah bersama yang lain
namun dalam hati masih ada namaku
ingin ku peluk erat dan tak ku lepas dirimu
namun apa daya yang terjadi
ia lebih memilih yang lain
Minggu, 23 Januari 2011
Mari Nembang Lagu Dolanan
Seorang ibu muda sedang berjalan sambil menimang-nimang bayinya. Senyumnya seperti kembang merekah di pagi hari, dari bibir si ibu terlontar puji-pujian manis. Ia mengajak bayinya berbicara mengenai apa-apa yang mereka lihat bersama. Tatkala si bayi mulai rewel, sang ibu mencoba mengalihkan perhatian dengan menunjuk dan mengubah topik pembicaraan lain, mulanya tentang bunga-bunga, lalu burung-burung gereja, kemudian kucing yang sedang menjilati ekornya, hingga ayam yang sedang mengais-ngais tanah. Tapi ketika tak kunjung berhasil menenangkan si bayi dalam timangan, ia pun mulai gemas. Aha untung saja ada si nenek yang dengan sigap mengambil alih dan mendendangkan sebuah tembang; tembang dolanan.
Si nenek langsung saja mendendangkan sebuah tembang yang sudah akrab ditelinga kita, tentang merdunya suara seruling, yah apalagi kalau bukan tembang Gambang Suling.
Gambang Suling
Gambang suling kumandhang swarane
Thulat-thulit kepenak unine
Unine mung nrenyuhake
Bareng lan kentrung
Ketipung suling sigrak gambangane
Tembang tersebut memang hanya terdiri dari lima baris, namun hebatnya tanpa iringan instrumen apapun nuansanya sangat kental dan enak didengar. Terbukti, si mungil dengan manifestasi tembang dolanan yang disenandungkan melalui ekspresi hati yang senang dalam timangan si nenek, langsung tersenyum dan lalu terbuai tidur. Tembang bisa diartikan sebagai syair lagu yang tidak lain adalah puisi, sedangkan dolanan berarti permainan. Tembang dolanan atau puisi lagu permainan sudah sejak dahulu menjadi salah satu alat ampuh para orang tua dalam mencurahkan rasa kasih sayangnya pada si buah hati.
Tembang dolanan banyak ragamnya di Jawa. Tembang tersebut tidak diketahui secara pasti masa dan siapa penciptanya. Tembang terebut hadir turun temurun melalui tradisi lisan masyarakat Jawa. Walaupun pada masa ini, beberapa diantara tembang warisan leluhur tersebut dibukukan untuk menjaga kelestariannya agar tidak hilang ditelan arus kemodernan.
Selain Gambang Suling, beberapa tembang dolanan yang sudah sangat akrab ditelinga, antara lain tembang Gundhul Pacul, Menthog-Menthog, dan Sluku-Sluku Bathok. Mungkin untuk nostalgia dan pengenal bagi generasi masa kini, berikut ini petikan tembang-tembang tersebut;
Gundhul Pacul
Gundhul-gundhul pacul-cul, gelelengan
Nyunggi-nyunggi wakul-kul, gembelengan
Wakul glimpang segane dadi saratan
Wakul glimpang segane dadi saratan
Menthog-Menthog
Menthog-menthog tak kandhani
Mung rupamu angisin-isini
Mbok ya aja ngethok ana kandhang wae
Enak-enak ngorok ora nyambut gawe
Menthog-menthog mung lakumu
Megal-megol gawe guyu
Sluku-Sluku Bathok
Sluku-sluku bathok, bathoke ela-elo
Si rama menyang sala
Leh-olehe payung motha
Pak jenthit lolobah
Wong mati ora obah
Nek Obah medeni bocah
Nek urip nggoleka dhuwit
Walau berwujud tembang dolanan, tidak berarti baris-baris puisi di dalamnya tanpa makna. Justru tembang dolanan tersebut menawarkan satu makna yang dalam mengenai kondisi lingkungan masyarakat yang tumbuh di sekitarnya hingga memuarakan nilai-nilai budi pekerti, sopan santun, lingkungan hidup, terutama kebersihan dan kesehatan, serta kehidupan beragama, walaupun kadang penyampaiannya dengan cara sindiran ataupun kelucuan. Namun tidak dapat dielakkan bahwa secara tersurat maupun tersirat, tembang dolanan sangat kaya akan makna kehidupan.
Dari tembang-tembang dolanan inilah secara sadar ataupun tidak kita telah memperkenalkan rasa keindahan dan kesastraan. Tembang-tembang ini berisi syair yang penuh permainan bahasa, seperti aliterasi, asonansi, rima, dan irama. Misal pada Gambang Suling, dari lima larik, empat larik berakhir dengan bunyi /e/, juga dominannya bunyi nasal /ng/, seperti pada kata gambang, suling, kumandhang, mung, bareng, kentrung, dan ketipung pada larik-lariknya. Bisa dikatakan struktur yang dipilih dalam tembang dolanan secara umum, memperlihatkan pilihan kata, sintaksis, dan pemberdayaan pepindhan (perbandingan), cangkriman (teka-teki), paribasan (peribahasa), wangsalan, serta parikan. Semua dipertimbangkan dengan takaran yang pas mana yang paling memiliki efek yang dapat menyentuh hati pendengar. Kesemuanya merangsang sensitifitas bayi terhadap bunyi-bunyi bahasa hingga pada akhirnya timbul kesadaran akan fungsi dan keajaiban kata.
Dalam tradisi Jawa, ada beberapa jenis puisi, antara lain berwujud tembang macapat, tembang tengahan, dan tembang gedhe. Kesemuanya memberikan aturan yang ketat dalam pilihan kata, karena memiliki pakem yang tidak dapat dilanggar, yaitu jumlah larik tiap lagu/bait (guru gatra), jumlah suku kata tiap larik (guru wilangan), dan bunyi akhir tiap larik (guru lagu). pakem tersebut merupakan satu ukuran keindahan dari tembang, jadi pelanggaran pada pakem dianggap merusak dan kurang nilai keindahannya. Tembang dolanan karena tidak mensyaratkan secara ketat adanya jumlah guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu, tidak masuk dalam kategori di atas. Bisa dikatakan sebagai satu bentuk dari geguritan yang bentuknya bebas.
Bentuk tembang dolanan merupakan wujud yang universal, di Indonesia atau di belahan dunia lain bentuk ini juga ada. Dalam bahasa Indonesia misalnya kita mengenal tembang dolanan yang populer seperti Balonku, Burung Kakaktua, Keplok Ame-Ame, dan Satu-Satu (Aku sayang Ibu). Masing-masing tembang dolanan tersebut memiliki keistimewaan dalam tatanan bunyi bahasa. Misalnya Burung Kakaktua yang seluruh larik bunyinya diakhiri fonem /a/, jumlah suku kata larik pertama dan keduanya sama, larik ke tiga dan ke empat merupakan tiruan bunyi (onomatope) yang berfungsi mengkonkretkan dan memantapkan efek suara yang diperoleh.
Di belahan bumi lain pun, ibu-ibu juga mendendangkan tembang dolanan untuk meninabobokkan anaknya. Tentu saja dengan cara sesuai dengan latar belakang budayanya masing-masing. Puisi lagu anak-anak di belahan bumi lain dalam bahasa Inggris lebih dikenal dengan istilah nursery rhymes. Salah satu contohnya adalah puisi di bawah ini.
Monday’s Child
Monday’s child is fair of face
Tuesday’s child is full of grace
Wednesday’s child is full of woe
Thursday’s child has far to go
Friday’s child is loving and giving
Saturday’s child work hard for its living
But the child’s that’s born on the sabbath day
Is bonny and bright, and good and gay
Sama halnya dengan tembang dolanan, permainan bunyi untuk memperoleh persajakan sangat intensif, dengan pola a-a-b-b-c-c-d-d, dalam delapan larik, tiap dua larik memiliki persajakan sama. Juga eksploitasi penggunaan pararelisme dalam kata dan dalam larik, yaitu penggunaan fonem /f/. Nursery rhymes yang paling kongkret lahir dari tradisi oral yang turun temurun dengan unsur-unsur permainan bahasa maupun lirik lagu yang kental unsur sense dan nonsense yang memperkaya pengalaman.
Betty Botter Bought Some Butter
Betty Botter bought some butter
But she said ‘the butter bitter’
If I put in my batter
If will make my batter bitter
But a bit of better butter
That would make my batter better
So she baught a bit of butter
better than her bitter butter
And she put it in her batter
And the batter was not bitter
So it was better Betty Botter
bought a bit of better butter
Sebagaimana tembang dolanan, nursery rhymes juga mengandung makna-makna tertentu, hanya saja makna kurang mendapat proporsi kuat. Secara umum nursery rhymes berkaitan dengan binatang, binatang dengan anak, keadaan cuaca, dan beberapa aktivitas tertentu. Faktor utama yang dijadikan kekuatan adalah unsur menghiburnya, atau untuk kepentingan memperoleh kesenangan. Namun adakalanya nursery rhymes tidak berupa puisi lengkap yang bisa disenandungkan, kadang nursery rhymes cuma berupa senandung, pengulangan bunyi-bunyi, irama-irama sederhana yang mendapat penekanan, atau ketukan-ketukan tangan yang berirama.
Begitulah tembang dolanan, atau juga istilah-istilah lainnya dalam bahasa berbeda. Pada masa anak sudah bisa berkomunikasi, biasanya akan dihadirkan oleh orang tua bersama dengan kisah-kisah dongeng atau petualangan yang menarik. Sebagai orang tua tentunya hal ini memberikan kenikmatan tersendiri juga, menghadirkan sesuatu yang benar-benar murni dari kemampuan alamiah sebagai orang tua untuk menghibur sang buah hati, bukannya menjejali dengan kesenangan permainan-permainan yang berbandrol mahal.
Bagaimana Ibu, mari nembang untuk si mungil.
Sabtu, 04 Desember 2010
Kenangan Tentangmu Di Sepanjang Jalan Itu
ku berjalan
berjalan menikmati keindah
keindahan yang telah terpendam waktu
disepanjang jalan kenangan ini
ditengah gerimis senja ini
teringat kembali atas apa yang telah terlampaui
disini
ada sebuah kenangan yang indah
ada sebuah kisah yang tersembunyi
kisah tentang masa lalu
kisah yang indah dan tak akn ku lupakan
sebuah kisah kasih yang tertenggelamkan
gerimis senja sore ini yang di warnai oleh lembayung
indah diufuk langit yang menjingga
memberikan suatu kesana
seperti satu tahun yang lalu
seperti saat kita akan meninggalkan kisah ini
dan kereta senja yang akan segera menjemputku
untuk mengantarkan aku kembali ke kota budaya
kota yang telah membesarkanku
kota yang tak mungkin ku tinggalkan
namun kenangan itu akan selalu ada
disepanjang jalan itu
sepanjang jalan yang indah
jalan menuju pemberangkatan kereta
dan kenangan itu selalu ada
dalam benak kita berdua
untuk selamanyaKamis, 19 Februari 2009
Kenangan
biarlah layar terkembang
ku ingin menyebrang
melintas pulau dan lautan
menjemput cintaku
belahan jiwa yang tertinggal
di Timur Loro Sae
menderu ombakmu menabuh pantai
kala tatap matamu sapa jiwaku
membiru lautmu memeluk pasir
kala harum nafasmu sebut namaku
dua langit t'lah membaur
di suatu cakrawala
dua biduk t'lah berlabuh
di satu dermaga cinta
januari di kota Dili
tak terkira cinta bersemi
januari lekas berganti
dan hempaskan cintaku
januari di kota Dili
kian hangat dalam ingatan
nantikanlah aku kembali
'tuk menjemput cintamu
menguning bulanmu mengetuk malam
dan mesra jemarimu belai sukmaku
membias bintangmu menghias nyiur
dan hangatnya bibirmu kecup kalbuku
dua biduk t'lah berlabuh
di suatu dermaga cinta
dua langit t'lah membaur
di suatu cakrawala
januari di kota Dili
kian hangat dalam ingatan
nantikanlah aku kembali
'tuk menjemput cintamu . . .
