Kamis, 04 April 2013

fiksi


aku duduk di atas tikar. tikar yang sama yang aku duduki selama lima tahun. disini, di depan kamar rumah susun ku. bukan, bukan kamarku. kalau aku mengakui ini adalah kamarku, berarti aku kalah, dan mereka menang. mereka membakar rumahku lima tahun yang lalu. mereka mengambil tanah kami untuk membangun rumah susun ini. mereka tidak memberikan ganti rugi. mereka hanya memberikan sebuah kamar di lantai 7, yang tidak pernah bisa menggantikan rumahku yang lama. bukan karena rumahku yang dulu adalah rumah yang besar. tapi aku membangunnya dengan tanganku sendiri. adi karyaku. satu-satunya adi karyaku yang pernah aku punya. pernikahanku bukan sekali sebuah adi karya. istriku bodoh. aku bodoh. kami bahkan tidak tahu bagaimana caranya berkomunikasi. kami tidak pernah bersekolah. mungkin karena itu. ketiga anakku juga bukan adi karya. anak laki-lakiku yang paling besar kini menghilang. dia menikam orang sampai mati ketika berumur 14 tahun, dan dipenjara. aku tidak tahu apakah ia sudah dibebaskan, atau belum. anakku yang kedua, tinggal di rumah, selalu di rumah, tidak pernah pergi ke luar. atau melakukan apa-apa. dia tidak bekerja, tidak sekolah, tidak ada satupun anakku yang sekolah. mungkin karena itu. anakku yang ketiga, perempuan. mungkin dia yang bisa mendekati sebuah adi karya.senyumnya manis, kulitnya bersih, sekalipun tidak pernah melakukan perawatan muka. perawatan muka apa ?! keluargaku makan saja sulit. sebentar lagi anak perempuanku akan pulang. dia telah menemukan jodohnya. seorang tukang ojek yang juga memiliki gerobak gorengan. anakku akan jadi orang, hidupnya akan lebih baik. hari ini, pacarnya dan keluarganya akan datang untuk meminang anakku. istriku dari pagi berusaha untuk membuatkau masuk. istri: “masuk dulu kenapa sih, ini buat anak elo!! nanti kalo keluarga pacarnya sudah pulang, elo boleh duduk disitu lagi !!” anak kedua: “atau pergi kemana dulu gih, nanti kalo mereka sudah pada pulang baru balik lagi” mereka tidak akan pernah mengerti. tidak ada orang yang bsia mengerti, kecuali anak perempuanku. cuma dia yang memahami aku. aku yakin dia tidak akan menyuruhku masuk. aku yakin dia tidak akan malu. waktunya semakin dekat, sebentar lagi anak perempuanku akan datang. aku tidak sabar untuk melihatnya, dia tadi pergi ke salon. kunjungannya yang pertama. …….. itu dia. ah.. dia caaaantik sekali, jauh lebih cantik dari biasanya. dia memang adi karyaku, yang paling memahami aku. aku yakin dia tidak akan keberatan aku terus duduk di depan rumah. anak ketiga: “pak ! masih disini aja, mau bikin aku malu ?! mau bikin calon mertuaku kabur ?!” anak ketiga: “itu orang tua bisa dipaksa masuk nggak sih ??!!!” ….. ….. …. aku yakin dia begitu karena hari ini adalah hari terpenting dalam hidupnya. aku tidak boleh egois. aku harus melakukan sesuatu. tapi apa? kalo aku masuk, berarti aku kalah, dan mereka menang. apa yang harus aku lalukan? apa? badanku terasa lemah, aku tak sanggup lagi berjalan jauh. kalau aku masih disekitar sini, mereka akan melihatku. dan anak perempuanku akan malu. apa yang harus aku lakukan? apa? ….. pembatas ini tidak terlalu tinggi. mungkin aku bisa memanjatnya. toh, badanku kini sangat ringan. hup, kini aku sudah ada diatasnya. satu….dua….tiga…..segalanya seperti dalam gerakan lambat. aku melayang, mungkin karena badanku terlalu ringan. apakah aku kalah? apakah aku menang? yang aku tahu tidak ada seorangpun yang akan kehilangan diriku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar