Kamis, 20 Maret 2014

Navigasi Darat (part 7) - TEKNIK MEMBACA PETA TOPOGRAFI DI LAPANGAN

TEKNIK MEMBACA PETA TOPOGRAFI DI LAPANGAN

Dalam kenyataannya di lapangan resectian dan intersection sangatlah sulit digunakan, karena keadaan alam itu sendiri, seperti hutan yang lebat dan rapat, kabut, tertutup oleh lembah, dll. Oleh karena iitu setelah kita mengetahui dan mempelajari mulai dari peta (peta topografi) sampai orientasi medan, maka pembahasan terakhir adalah teknik membaca peta topografi di lapangan.

Teknik membaca peta topografi di lapangan ini sangatlah penting untuk mengetahui dan dimengerti oleh seorang pecinta alam, khususnya pendaki gunung. Cara yang paling baik untuk mempelajarinya adalah langsung di lapangan dan dari pengalaman.
Untuk yang baru pertama mengenal Navigasi Darat, khususnya mengenai peta topografi, maka tahapan-tahapan pekerjaan di lapangan sebagai berikut :
1. Titik Awal Perjalanan
Titik awal ini yang pertama diketahui dan harus diketahui!! Bila tidak dapat resection, sebaliknya tahu nama tempat tersebut. Misalnya Desa Warung Loa, nama sungai, dll. Kemudian pindahkan plot/titik tersebut pada peta topografi.
2. Tanda Medan
Perhatikan tanda medan. Jadikan tanda medan sebagai pedoman arah perjalanan, misalnya puncak gunung, sungai di sebelah kiri atau di kanan, tebing, penggunungan, dan tanda medan lainnya.
3. Arah Kompas
Gunakan kompas untuk melihat arah perjalanan anda. Apakah sesuai dengan arah gunung, punggungan, sungai, atau tanda medan lainnya yang anda tuju.
4. Tafsir Jarak
Hitung atau tafsir jarak yang kita jalani dengan menafsirkan berapa jauh tiap bagian perjalanan kita.
Caranya:
a. Dengan melihat ke belakang dan memperkirakan jarak berhenti
b. dapat juga dengan menghitung langkah
5. Orientasi Medan dan Resection
Lakukan teknik orientasi medan dan resection seserius mungkin, setiap kali ada kesempatan dan keadaan medan memungkinkan, lalu plot dan pindahkan pada peta topografi. Titik ini merupakan titik kontrol perjalanan kita.
6. Perubahan Kondisi Medan
Selama berjalan, waspadalah terhadap perubahan kondisi medan dan perubahan arah perjalanan kita. Misalnya pindah punggungan, punggungan curam menjadi landai., sungai dari sebelah kiri ke sebelah kanan kita, punggungan tipis, dll.
Jadi selama kita berjalan konsentrasi kita selalu penuh terhadap perubahan-perubahan medan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar