Rabu, 08 September 2010

sore yang ceria

sore yang ceria

Menyambut malam yang indah

Purnama yang mulai menampakkan diri

Nyala api yang mulai berkobar

Disebuah halaman

Bersebelahan dengan danau kecil

Ayunan masa lalau yang dipakai oleh aku dan kakak-kakakku dulu

Sekarang . . .

Ayunan itu digunakan oleh anak-anak kami

Sore telah berganti

Terang menjadi gelap

Semua telag berkumpul disini

Ayah, ibu, kakak-kakakku

Dan pasangan kakak-kakakku

Anak-anak mulai berkumpul

Memberikan keceriaan

Senda tawa terlontar

Aku terdiam disini menikmati semua

Sebuah rasa kebersamaan

Jagung-jagung yang mulai dibakar

Memberikan aroma harum yang menggoda

Anak-anak yang bermain

Berlari berhamburan ke ibu masing-masing

Kecuali satu . . .

Bermanja-manja

Sesaat kemudian menuju kepadaku

Untuk meminta sebuah dongeng

Langit begitu benderasng dengan pancaran purnama

Serta kerlip bintang nan menggoda

Sunyi . . .

Saat menikmati jagung-jagung aneka rasa

Nyanyian kolaborasi malam ini begitu syahdu

Tarian sang kunang-kunang kembali hadir

Dalam remang dan suasana bahagia

Canda dan tawa lepas anak-anak menandakan kebahagian

Tetesan air mata tak tertahankan

Mengalir saat ku mengakhiri kisah dongengku

Namun jam pada handphone yang ku pegang

Telah menunjukkan pukul sembilan malam

Saatnya mengakhiri semua kebersamaan ini

Hanya tiga jam yang ku lalui bersama yang lain

Namun rasa ini berbeda

Tak sperti mereka yang bergelimang materi

Dan dimanjakan oleh materi

Namun . . .

Mereka tak pernah dimanjakan oleh kebersamaan

Dan oleh kepuasan batin

Yaitu perhatian

Untukku

Lebih berharga kebersamaan dan saling memperhatikan

Dibandingkan mempunyai setumpuk materi tapi tak pernah diperhatikan

Kisah ini nyata

Kisah ini banyak terjadi

Dan banyak mereka yang mengalaminya

Terkadang ada yang berpikir

Lebih baik hidup miskin namun penuh kasih dan perhatian

Dibandingkan hidup kaya namun tak penuh kasih dan perhatian

 

 

Jogja, 23 Juli 2010 at 09.06pm 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar